artikel ini sebaiknya dibaca dan diteliti lagi sekiranya ada kesalahan.
"sebaik-baiknya karya orang lain, tidak lebih bermakna dari karya anda sendiri".
"sebaik-baiknya karya orang lain, tidak lebih bermakna dari karya anda sendiri".
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Pandangann Behavior Terhadap Hakikat Manusia
Jika psikoanalisa memfokuskan manusia hanya pada totalitas kepribadian (yang hanya tingkah laku yang tidak nampak) tetapi teori ini memfokuskan perhatiannya lebih menekan pada perilaku yang nampak, yakni perilaku yang dapat diukur, diramalkan dan di gambarkan.
Manusia oleh teori behaviorisme disebut sebagai Homo Mechanicus, artinya manusia mesin. Mesin adalah suatu benda yang bekerja tanpa ada motif dibelakangnya, mesin berjalan tidak larena adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena lingkungan sistemnya. Jika mobil kehabisan bensin pasti tidak hidup, jika businya kotor juga mesin mati, jika unsur-unsur lingkungannya lengkap pasti berjalan lancar. Tingkah laku mesin dapat diukur, diramalkan dan di gambarkan. Manusia, menurut teori behaviorisme juga demikian. Selain insting, seluruh tingkah laku nya merupakan hasil belajar. Belajar ialah perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Orang batak yang di pinggir pantai laut bicaranya selalu keras,. Karena lingkungan menuntut keras, yakni bersaing dengan suara ombak, sedangkan orang jawa yang hidupnya di perkampungan yang lenggang, bicarnya seperti berbisik-bisik, karena lingkungan tidak menuntut suara keras, berbisk-bisik pun terdengar.
Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik atau buruk, rasionil atau emosionil. Behavirisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku manusia dekendalikan oleh lingkungan. Manusia dalma pndangan teori behaviorisme makhluk yang sangat elastis, yang perilaknya sangant di pengaruhi oleh pengalamannya. Manusia munuirut teori ini dapat dibentuk dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Seorang anak misalnyadapat di bentuk perilakunya menjadi seorang panakut jika secara sistematis ia di takut-takuti. Demikian juga manusia dapat dibentuk menjadi pemberani, disiplin, cerdas, dungu dan sebagainya dengan menciptakan lingkungan yang relevan.
Dalam teori ini manusia dipandang sangat rapuh tak berdaya menghadapi lingkungan ia dibentuk begitu saja oleh lingkungan tanpa mampu melakukan perlawanan. Aristoteles, yang dianggap sebagai cikal bakal teori behaviorisme memperkenalkan teori tbularasa. Yakni bahwa manusia itu tak ubahnya meja lilin yang siap di lukis dengan tulisan apa saja. Jika kita berpegang pada teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa mahasiswa dapat dibentuk maenjadi apasaja (penurut, pemberontak, dan sebagainya) oleh dosenya atau Universitasnya, dan untuk itu kurikulum serta alat-alat stimulasi bisa dirancang.
2.2 Karakteristik dan Asumsi Dasar Konseling Behavioristik
a. Konsep Dasar Konseling.
Menurut Skinner, perilaku manusia atas konsekuensi yang diterima. Apabila perilaku mendapat ganjaran positif, maka individu akan meneruskan atau mengulangi tingkah lakunya, sebaliknya apabila perilaku mendapat ganjaran negatif (hukuman), maka individu akan menghindari atau menghentikan tingkah lakunya. Pendekatan behavioral lebih berorientasi pada masa depan dalam menyelesaikan masalah. Inti dari behavioral adalah proses belajar dan lingkungan individu. Konseling behavioral dikenal sebagai ancangan yang pragmatis.
Corey (2001) mengatakan bahwa konseling behavioral yang modern tidak mempunyai asumsi deterministik tentang manusia yang menganggap manusia hanya sebagai produk dari kondisioning sosiokultur. Individu adalah hasil produksi dan juga yang memproduksi lingkungannya. Corey melihat Skinner sebagai penganut teori tingkah laki yang radikal yang tidak mengakui kemungkinan diri sebagai penentu dan kebebasan diri. Kecenderungan sekarang adalah untuk mengajarkan pengendalian kepada konseli, dengan demikian meningkatkan kebebasan mereka. Modifikasi tingkah laku bertujuan meningkatkan keterampilan individu sehingga mereka mempunyai lebih banyak pilihan dalam memilih suatu tingkah laku.
Perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin. Kontribusi terbesar konseling behavioral adalah bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan perilaku. Dasar teori konseling behavioral adalah bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi :
· Belajar waktu lalu hubungannya dengan keadaan yang serupa
· Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan lingkungan
· Perbedaan-perbedaan biologic baik secara genetic atau karena gangguan
fisiologik.
Dengan eksperimen-eksperimen terkontrol secara seksama maka menghasilkan hokum-hukum yang mengontrol perilaku tersebut.
b. Karakter Konseling Behavioral.
Karakter konseling behavioral adalah sebagai berikut:
· Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
· Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat
membantu dalam merubah perilaku-perilaku yang relevan; prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
· Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social
modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
· Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan
dalam perilaku-perilaku khusus konseli diluar dari layanan konseling yang diberikan.
· Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap, atau ditentukan sebelumnya,
tetapi dapat secara khusus didisain untuk membantu konseli dalam memecahkan masalah khusus.
c. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah
Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang salah hakekatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungan. Tingkah laku maladaftif terjadi karena kesalahpahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.
2.3 Tujuan Konseling
Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :
· Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
· Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
· Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
· Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau
maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
· Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive,
memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
· Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan
bersama antara konseli dan konselor.
2.4 Fungsi dan Peran Konselor
Hakikatnya fungsi dan peranan konselor terhadap konseli dalam teori behavioral ini adalah :
· Mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk memberi fasilitas
pada penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
· Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan
seseorang dari perilaku yang mengganggu kehidupan yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki sepanjang sasaran itu sesuai dengan kebaikan masyarakat secara umum.
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatmen, yakni terapis menerapkan pengtahuan ilmiyah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah-masalah manusia, pada kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengaruh, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalm menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang,diharapkan,mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.
Sebagai hasil tinjauannya yang seksama atas kepustakaan psikoterapi, Krasner (1967) mengajukan argumen bahawa peran seorang terapis dari aliansi teoritisnya, sesungguhnya adalah “mesin perkuatan”. Apa pun yang dilakukannya terapis pada dasarnya terlibat dalam pemberian perkuatan-perkuatan sosial baik yang positif maupun yang negatif. Bahkan meskipun mempersiapkan dirinya sebagai pihak yang netral sehubungn dengan pertimbangan-pertimbangan nilai, terapis membentuk tingkah lakuklien, baik melalui cara langsung maupun tidak secara langsung. Krasner (1967) menandakan bahwa “ terapis atau pemberi pengaruh adalah suatu ‘mesin pengkuatan’. Yang dengan kehadirannya memasok perkuatan yang dilegenerarisasikan pada setiap kesempatan dalam situasi terapi, terlepas dari tekhnik ataw keperibadian yang terlibat” (h,202) ia menyatakn bahwa tingkah laku klien tunduk pada manifulasi yang halus pada tingkah laku terapis yang memperkuat. Hal itu acap kali tanpa di sadari, baik oleh klien maupun oleh terapis. Krasner (1967), dengan mengutif kepustakaan,menunjukkan bahwa peran terapis adalah memanipulasi dan mengendalikan psikoterapi dengan pengetahuan dan kecakapannya menggunakan teknik-teknik belajar dalam suatu situasi perkuatan sosial. Krasner lebih lanjut mennyatakan bahwa, meskipun sebagian besar terapis tidak senang dengan peran “pengendalian” atau “manipulator” tingkah laku, istilah-istilah tersebut menerangkan secara cermat apa sesungguhnya apa peran terapis itu. Ia mengutip bukti untuk menunjukkan bahwa, atas dasar perannya, terapis “ memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan tingkah laku dan nilai-nilai manusia lain. Ketidaksedian terapis untuk menerima situasi ini dan trus menerus tidak menyadari efek-efek tingkah lakunya atas para pasiennya itu pun tidak etis” (h, 204).
Goodstein (1972) juga menyabut peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Menurut Goodstein, “peran konselor adalah menunjangf perkembangan tingkah laku yang secara sosial layak dengan secara sistematis memperkuat jenis tingkah laku klieb semacam itu” (h,274). Minat, perhatian, dan persetujuan (ketidak berminatan dan ketidak setujuan) terapis adalah pemerkuat-pemerkuat yang hebat bagi tingkah laku klien. Pemerkuat-pemerkuat tersebut bersifat interpersonal dan melibatkan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, serta acap kali tanpa disertai kesadaran yang penuh dari terapi. Goodstain menyatakan bahwa peran mengendalikan tingkah laku klien yang dimainkan oleh terapis melalui perkuatan menjangkau situasi di luar konseling serta di masukkan ke dalam tingkah laku klien dalam dunia nyata: “konselor mengajar respon-respon tertentu yang di laporkan telah di tampilkan telah di tampilkan oleh klien dalam situasi-situasi khidupan nyata dan menghukum, respon-respon yang lainnya. Ganjaran-ganjaran itu adalah persetujuan, minat, dan keprihatinan. . . perkuatan semacam itu penting terutama pada periode ketika klien mencoba respon-respon atau tingkah laku baru yang belum secara tetap di beri perkuatan oleh orang lain dalam kehidupan klien” (h, 275). Salah satu penyebab munculnya hasil yang tidak memuaskan adalah bahwa terapis tidak cukup memperkuat tingkah laku yang baru di kembangkan oleh klien.
Satu fungsi penting lainya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Banduara (1969) menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia mengunkapkan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan klien bisa mempelajari tingkah laku baru adalah imitasi atau contoh sosial yang disajikan oleh terapis. Terapis sebagai pribadi , menjadi model yang penting bagi klien. Karena klien sering memandang terapis sebagi orang yang patut di taladani, klien acap kali meniru sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaan dan tingkah laku terapis. Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang di mainkannnya dalam proses identifikasi. Bagi terapis, tidak mennyadari kekuatan dirinnya dalam mempengaruhi dan membentuk cara berpikir dan bertindak kliennya, berarti mengabaikan arti penting kepribadiannya sendri dalam proses terapi.
2.5 Pengalaman Konseli dalam Proses Konseling
Hal unik dalam konseling Behavioristik adalah adanya peran konseli yang ditentukan dengan baik dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses konseling.
Keterlibatan konseli dalam proses konseling dalam kenyataannya menjadi lebih aktif, dan tidak hanya sebagai penerima teknik-teknik yang pasif. Konseli didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku yang baru, sebagai pengganti tingkah laku yang salah suai.
Salah satu sumbangan yang unik dari terapi tingkah laku adalah suatu sistem prosedur yang ditentukan dengan baik yang digunakan oleh terapis dalm hubungan dengan peran yang jyga ditentukan dengan baik. Terapi tingkah laku juga memberikan kepada klien peran yang ditentukan dengan baik, dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi klien dalam proses terapeoutik. Carkhuff dan Berenson (1967) menunjukkan bahwa sekalipun klien boleh jadi berada dalam peran sebagai “penerima tekhnik-tekhnik yang pasti”. Ia diberi keterangan yang cukup tentang tekhnik-tekhnik yang di gunakan. Mereka menyatakan bahwa “sementara terapis memiliki tanggung jawab utama. Klien dalah fokus perhatian disertai sedikit perhatian pada nilai-nilai sosial, pengaruh orangtua, dan proses-proses tak sadar. Para terapis modifikasi tingkah laku pertama-tama harus memberikan keterangan rinci mengenai apa yang ada dan akan dilakukan pada setiap tahap proses treatment” (h,92).
Keterlibatan klien dalam proses terapeutik karenannya harus dianggap sebagai kenyataan bahwa klien menjadi lebih aktif alih-alih menjadi penerima tekhnik-tekhnik yang pasif seperti diisyratkan oleh Carkhuff dan berenson. Jelas, klien harus secara aktif terlibat dalam pemilihan dan penentuan tujuan-tujuan, harus memiliki motifasi untuk berubah, dan bersedia bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan terapioutik baik selama pertemuan-pertemuan terapi maupun di luar terapi, dalam situasi-situasi kehidupan nyata. Jika klien tidak secara aktif terlibat dalam prose terapeutik, maka terapi tidak akan membawa hasil-hasil yang memuaskan.
Marquis (1974), yang menggunakan prinsip-prinsip pendekatan behavioral untuk menunjang pengubahan kepribadian yang efektif, memandang perlunya peran aktif klien dalam proses terapi. Melalui model terapi tingkah laku, Marquis menguraikan program tiga fase yang melibatkan partisipasi klien secara penuh dan aktif. Pertama, tingkah laku klien sekarang di analisis dan “pemahaman yang jelas menjangkau tingkah laku akhir dengan partisipasi aktif dari klien dalam setiap bagian dari proses pemasangan tujuan-tujuan” (h, 368). Kedua, cara-cara alternatif yang bisa di ambil oleh klien dalam upaya mencapai tujuan-tujuan, dieksplorasi. Ketiga, suatu program treatment direncanakan, yang biyasannya berlandaskan langkah-langkah kecil yang bertahap dari tingkah laku klien yang sekarang menuju tingkah laku yang di harapkan membantu klien dalam mencapai tujuannya.
Suatu aspek yang penting dari peran klien dalam terapi tingkah laku adalah, klien di dorong untuk breksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendarahaan tingkah laku adaptifnya. Dalam terapi, klien dibantu untuk menggeneralisasi dan mentransper belajar yang diperoleh di dalam situasi terapi kedalam situasi di luar terapi. Lagi-lagi, pendekatan ini menggarisbawahi pentingnnya keterlibatan aktif dan kesediaan klien untuk memperluas dan menerapkan tingkah laku barunnya pada situasi-situasi kehidupan nya.
Terapi ini belum lengkap apabila verbalisasi-verbalisasi tidak atau belum diikuti oleh tindakan-tindakan. Klien harus berbuat lebih dari sekedar memperoleh pemahaman-pemahaman, sebab dalam terapi tingkah laku klien harus bersedia mengambil resiko. Bahwa masalah-masalah kehidupan nyata harus dipecahkan dengan tingkah laku baru di luar terapi, berarti fase tindakan merupakan hal yang esensial. Keberhasilan dan kegagalan usaha-usaha menjalankan tingkah laku baru adalah bagian yang vital dari perjalanan terapi.
2.6 Hubungan Konselor dengan Konseli
Ada suatu kecendrungan yang menjadi bagian dari sejumlah kritik untuk menggolongkan hubungan antara terapis dank klien dalam terapi tingkah laku sebagai hubungan yang mekanis, manipulatif, dan sangat impersonal. Bagaimanapun, sebagian besar penulis di bidang terapi tingkah laku. Khususnya Wolpe (1958.1969). menyatakan bahwa pembentukan hubungan pribadi yang baik adalah salah satu aspek yang esensial dalam proses terapeutik. Sebagaimana di singgung di muka. Peran terapis yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah laku tidak di cetak untuk memainkan peran yang dingin dan impersonal yang mengerdilkan mereka menjadi mesin – mesin yang deprogram yang memakakan teknik – teknik kepada para klien yang mirip robot – robot.
Bagaimanapun, tampak bahwa pada umumnya terapis tingkah laku tidak memberikan peran utama kepada variable – variable hubunan terapis – klien. Sekalipun demikian. Sebagian besar dari mereka mengakui bahwa faktor – faktor seperti kehangatan, empati, keotentikan, sikap permisif, dan penerimaan adalan kondisi – kondisi yang diperlukan, terapi tidak cukup. Bagi kemunculan perubahan tikah laku dalam proses terapeutik. Tentang persoalan ini Goldstein (1973) menyatakan bahwa pengembangan hubungan kerja membentuk tahap bagi kelangsunggan terapi. Ia mencatat bahwa hubngan semacam itu dalam dan oleh dirinya sendiri tidak cukup sebagai pemaksimal terapi yang efektif (h. 220). Sebelum intervensi terapeutik tertentu bisa dimunculkan dengan suatu derajat keefektifan. Terapi terlebih dahulu harus mengembangkan atmosfer kepercayaan dengan memperlihatkan bahwa
· Ia memahami dan menerima pasien
· Kedua orang di antara mereka bekerja sama dan
· Terapi memiliki alat yang berguna dalam membantu ke arah yang dikehendaki
oleh pasien.
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli. Konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling.
2.7 Teknik-Teknik dan Prosedur Konseling
Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk pola tingkah laku) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru akan dapat dibentuk.
Teknik Umum
Teknik Khusus
1. Shaping
2. Extinction
3. Reinforcing uncompatible behaviors
4. Imitative Learning
5. Contracting
6. Cognitive learning
7. Covert Reinforcement
1. Assertive Training
2. Latihan respon-respon seksual
3. Relaksasi
4. Desensitisasi Sistematis
Salah satu sumbangan terapi tingkah laku adalah pengembangan prosedur-prosedur terapeutik yang spesifik yang memiliki kemungkinan untuk diperbaiki untuk metode ilmiah. Teknik-teknik terapi tingkkah laku harus menunjukan keefektifannya melalui alat-alat yang objektif.
Adapun ada beberapa teknik dalam penerapan terapi behavior atau tingkah laku ini, antara lain adalah :
1. Desensitisasi Sistematik
Merupakan salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam konseling tingkah laku. Desensitisasi sistematik di gunakan untuk mengapus tingkah laku yang di perkuat secara negatif, dan ia menyatakan pemunculan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik- teknik relaksasi. Konseli di latih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaindari yang sangat tidak mengancam.
Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasangakan secara berhulang-ulang dengan stimulus –stmulus penghasil keadaan santai sampai kaitan antara stimulus-stimulus kecemasan respons kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini Wolpe telah mengembangkan suatu respons-yakni relaksasi, yang secarafisiologis bertentangan dengan kecemasan yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek –aspek dari situasi yang mengancam. Desensititasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia. Desensitisasi sistematik bisa di terapkan secara efektif pada berbagai situasi peng hasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang generalisasi, kecemasan-kecemasan neurotic, serta impotensa dan frigiditas seksual. Wolpe (1969) mecatat 3 penyebab kegagalan dalam pelaksanaan desensitisasi sistematik :
a. Kesulitan-kesulitan dalam relaksasi, yang bisa jadi menunjuk kepa kesulitan-
kesulitan dalam komunikasi antara konselor dan konseli atau kepada keterhambatan yang ekstrem yang di alami oleh konseli
b. Tingkatan-tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan ,
c. Ketidak memadai dalam membayangkan .
2. Terapi Implosif dan Pembanjiran
Teknik-teknik pembanjiran berlandaskan paradigma mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan. Dalam teknik pembanjiran terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran yang disebut ‘ terapi implosif’ seperti halnya dengan desensitisasi sistematik, terapi implosif berasumsi bahwa tingkah laku neurotik (Penderita) melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa, jika seseorang secara berulang-ulang dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekwensi-konsekwensi yang di harapkan dan menakutkan tidak muncul, stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, dan penghindaran neurotik pun terhapus.
Stampfl (1975) mencatat beberapa contoh bagaimana terapi implosif berlangsung. Ia melukiskan seorang klien yang mengalami kecendrungan-kecendrungan obsesif kepada kebersihan. Klien mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari dan memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap kuman.
a. Prosedur-prosedur penanganan klien mencakup Pencarian stimulus-stimulus
apa yang memicu gejala-gejala apa
b. Menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu
membentuk tingkahlaku klien
c. Meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang
dijabarkannya tanpa disertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya
d. Bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien
dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin di hindarinya, dan
e. Mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul
dalam diri klien
Stampfl (1975) Mencatat sejumlah studi yang membuktikan kemanjuran terapi implosif dalam menangani para pasien gangguan jiwa yang dirumahsakitkan, para pasien neurotik, para pasien psikotik dan orang-orang yang menderita fobia-fobia.Stampfl menyatakan bahwa terapi implosif berbeda dengan terapi-terapi konvensional dalam arti terapi implosif tidak menekankan pemahaman sebagai agen terapeutik.
3. Latihan Asertif
Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif, yang bisa di terapkan terutama pada situasi interpersonal di mana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang- orang yang:
a. Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung.
b. Menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain
untuk mendahuluinnya.
c. Memiliki kesulitan untuk mengatakan ‘’ tidak’’
d. Mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif
lainnya
e. Merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran
sendiri.
Bagaimana pendekatan ini berlangsung? Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas yang bisa di kemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi atasannya di kantor. Misalnya , klien mengeluh bahwa dia acap kali merasa di tekan oleh atasannya untuk melakukan hal-hal yang menurut penilaiannya buruk dan merugikan serta mengalami hambatan untuk bersikap tegas di hadapan atasannya itu. Pertama-tama klien memainkan peran sebagai atasan, member contoh bagi terapis, sementara terapis mencotohkan cara berpikir daqn cara klien menghadapi atasan. Kemudian mereka saling menukar peran sambil klien mencoba tingkah laku baru dan terapis memainkan peran sebagai atasan. Klien boleh memberikan pengarahan kepada terapis tentang bagaimana memainkan peran sebagai atasannya secara realities , sebaiknyaterapis melatih klien bagaimana bersifat tegas terhadap atasan. Proses pembentukan terjadi ketika tingkah laku baru di capai dengan penghampiran-penghampiran. Juga terjadi penghapusan kecemasan dalam menghadapi atasan dan sikap klien yang lebih tegas terhadap atasan menjadi lebih sempurna.
Tingkah laku menegaskan diri pertama-tama di praktekan dalam situasi permainan peran . dan dari sana di usahakan agar tingkah laku menegaskan diri itu di praktekan dalam situasi situasi kehidupan nyata. Terapis memberikan bimbingan dengan memperlihatkan bagaimana dan bila mana klien bisa kembali ke tingkah laku semula. Tidak tegas serta memberikan pedoman untuk memperkuat tingkah laku menegaskan diri yang baru diperolehnya.
Shaffer dan Galinsky (1974) Menerangkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau latihan ekspresif di bentuk dan berfungsi. Kelompok terdiri dari delapan sampai sepuluh anggota yang memiliki latar belakang yang sama. Dan season terapi berlangsung selama dua jam. Terapis bertindak sebagai penyelenggara dan pengarah permainan peran. Pelatih memberi penguatan dan sebagai model peran. Dalam diskusi-diskusi kelompok terapis bertindak sebagai seorang ahli memberikan bimbingan dalam situasi-situasi permainan peran. Dan memberikan umpan balik kepada para anggota.
Seperti kelompok- kelompok tingkah laku lainnya, kelompok latihan asertif di tandai dengan stuktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas sessions berstruktur sebagai berikut : session pertama yang di mulai dengan pengenalan didaktik tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan respon-respon interbnal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurang tegasan dan pada belajar peran tingkah laku yang baru asertif. Session kedua bisa memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing- masing anggota menenrangkan tingkah laku spesifik dalam situasi-situasi interpersonal yang di rasakannya menjadi masalah. Para anggota kemudian membuat perjanjian untuk menjalankan tingakah laku menegaskan diri yang semula mereka hindari sebelum memasuki session yang selanjutnya. Session ketiga, para anggoata menerangkan tentang tingkah laku menegaskan diri yang telah diu coba di jalankan oleh mereka dalam situasi-situasi kehidupan nyata. Mereka berusaha mengepaluasi, jika mereka belum sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan permainan peran. Session selanjutnya terdiri atas penambahan latihan relaksasi , pengulangan perjanjian untuk menbjalankan tingkah laku menegaskan diri yang di ikuti oleh evaluasi. Session yang terakhir bisa di sesuaikan dengan kebutuhan – kebutuhan individual para anggota. Sejumlah kelompok cenderung berfokus pada permainan peran tambahan . evaluasi dan latihan sedangkan kelompok yang lainnya berfokus pada usaha usaha mensiskusikan sikap-sikap dan perasaan perasaan yang telah membuat tingkah laku menegaskan diri sulit di jalankan.
Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu dalam mengembangkan cara cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi intrapersonal. Fokusnya adalah mempraktekan memulai permaianan peran kecakapan-kecakapan bergaul yang baru di peroleh sehingga individu belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran mereka secara lebih terbuka di sertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukan reaksi-reaksi yang terbuka itu.
4. Terapi Aversi
Teknik-teknik pengondisian aversi yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculanya. Stimulus-stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik dan ramuan yang mengakibatkan mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman. Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan social di tarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekwensinya. Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik terhadap anak autistic ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.
Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling controversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang diinginkan. Kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka alam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. Sebagian besar lembaga social menggunakan prosedur-prosedur aversi untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan yang telah di gariskan: gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguhan pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.
Kendali aversi acap kali menandai hubungan orang tua-anak. Kendali-kendali bisa bekerja secara langsung dan disadari. Baik anak maupun orang tua bisa di kendalikan oleh apa yang terjadi dalam situasi-situasi tertentu., dan boleh jadi situasi-situasi itu tidak bisa di jelaskan. Seorang anak diberi hak istimewa jika dia menyelaraskan diri dengan bertingkah laku sebagaimana yang di harapkan, dan sebaliknya. Anakpun belajar menggunakan kendali aversif terhadap orang tuanya. Dia belajar bahwa orang tuanya memiliki suatu taraf toleransi terhadap tangisan, teriakan, permintaan, dan renekan anak, serta belajar bahwa pada akhirnya orang tuanya itu akan memenuhi permintaanya.
Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering di gunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif, mencakup minumalkohol secara berlebihan, ketergantungan pada obat bius, merokok, obsesi-obsesi, kompulsi-kompulsi, fetisisme, berjudi, homoseksualitas, dan penyimpangan seksual seperti pedofolia. Teknik ini merupkan metode yang utama dalam penanganan alkoholisme. Seorang alkoholik tidak dipaksa untuk menjauhkan diri dari alcohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol diseratai pemberian ramuan yang membuat alkoholik merasa mual, dan kemudian muntah. Si alkoholik lambat laun akan merasa sakit bahkan meskipun hanya melihat botol alkohol. Pengetahuan tentang pengaruh-pengaruh buruk dari alkohol cenderung menghambat alkoholisme, tetapi terdapat kemungkinan bahwa alkoholik kembali kepada kebiasaan semula setelah periode penahanan diri yang singkat. Selain pada penanganan alkoholisme, prosedur-prosedur aversi telah digunakan secara berhasil pada penanganan-penanganan penyimpangan-penyimpangan seksual dengan mengasosiasikan stimulus yang menyakitkan dengan objek atau tindakan seksual yang tidak layak.
Butir yang penting adalah bahwa maksud prosedur-prosedur aversif iyalah menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaftifdalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternative yang adaptif dan yang akan terbukti memperkuat dirinya sendiri. Satu kesalahpahaman yang popular adalah bahwa teknik-teknik yang berlandasan hukuman merupakan perangkat yang paling penting bagi para terapis tingkah laku. tingkah laku. Hukumanjangan sering digunakan meskipun mungkin para klien sendiri menginginkan penghapusan tingkahlaku yang tak diinginkanya melalui penggunaan hukuman. Apabila cara-cara yang merupakan alternatifbagi hukuman tersedia, maka hukuman jangan digunakan. Cara-cara yang positif yang mengarahkan kerusak dari pada tingkah lakuyang baru dan lebih layak harus dicari dan di gunakan sebelum terpaksa menggunakan pemerkuat-pemerkuat negative. Acap kali tingkah laku bisa di ubah hanya dengan menggunakan perkuatan positif yang mengurangi kemungkinan terbentuknya efek-efek samping yang merusak dari hukuman. Di samping itu, jika hukuman di gunakan, bentuk-bentuk tingkah laku adaptif yang merupakan alternative perlu secara jelas dan secara spesifik di gambarkan secara hukuman harus di gunakan dengan cara-cara yang tidak mengakibatkan klien merasa di tolak sebagai pribadi. Yang juga penting adalah klien dibantu agar ia mengetahui bahwa konsekuensi-konsekuensi aversif diasosiasikan hanya dengan tingkah laku maladaptive yang spesifik.
Skinner (1948-1971) Adalah salah seorang tokoh yang secara terang-terangan menentang penggunaan hukuman sebagai cara untuk mengendalikan hubungan-hubungan manusia ataupun untuk mencapai maksud-maksud lembaga-lembaga masyarakat. Menurut Skinner perkuatan positif jauh lebih baik efektif dalam mengendalikan tingkah laku karena hasil-hasilnya lebih bisa diramalkan serta kemungkinan timbulnya tingkah laku yang tidak diingankan akan lebih kecil. Skinner berpendapat bahwa hukuman adalah sesuatu yang buruk, meskipun bisa menekan tingkah laku yang diinginkan, tidak melemahkankecenderungan untuk merespon bahkan kalaupun ia untuk sementara menekan tingkah laku tertentu. Akibat-akibat yang tidak tidak diinginkan, menurut Skinner, berkaitan dengan penggunaan pengendalian aversif maupun penggunaan hukuman.
Apabila hukuman digunakan, maka terdapat kemungkinan terbentuknya efek-efak samping emosional tambahan seperti:
a. Emosional tambahan seperti tingkah laku yang tidak diinginkan yang dihukum
boleh jadi akan ditekan hanya apa bila penghukum hadir
b. Jika tidak ada tingkah laku yang menjadi alternatif bagi tingkah laku yang
dihukum, maka individu ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan,
c. Pengaruh hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang
berkaitan dengan tingkah laku yang dihukum, Misalnya; Seorang anak yang dihukum karena kegagalannya di sekolah boleh jadi akan membenci semua pelajaran, sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci belajar pada umumnya.
Jadi, seorang anak yang dihukum karena kegagalanya di sekolah boleh jadi akan membenci semuapelajaran sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci belajar pada umumnya.
5. Pengondisian Operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme yang aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup membaca, berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dan lain-lain. Menurut Skinner (1971), jika suatu tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut dimasa mendatang akan tinggi.Perubahan tingkah laku yang dikondisikan, diberikan dalam kurun waktu tertentu dan target tertentu. Contonya pemberian hadiah jika seorang anak yang mendapatkan ranking.
6. Perkuatan positif
Perkuatan positif adalah suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau penghargaan positif setalah tingkah laku yang diharapkan itu muncul. Cara ini sangat ampuh untuh mengubah tingkah laku yang tidak baik menjadi baik. Ada pemerkuat – pemerkuat untuk perkuatan positif adalah sebagai berikut :
a. Pemerkuat primer adalah memuaskan kebutuhan fisiologis. Contoh : makanan,
minuman, tidur/istirahat, rumah, dan pakaian.
b. Pemerkuat skunder adalah memuaskan kebutuhan psikologis dan sosial.
Pemerkuat skunder bias menjadi alat yang sangat ampuh untuk merubah tingkah laku diharapkan dari tidak baik menjadi baik. Contoh : memberikan senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas/ medali/ tanda penghargaan, uang, dan hadiah.
7. Pembentukan respons
Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam pembendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. Jadi, misalnya, jika seorang guru ingin membentuk tingkah laku kooperatif sebagai tingkah laku kompetitif, dia bisa memberikan perhatian dan persetujuan kepada tingkah laku yang diinginkannya itu. Pada anak autisik yang tingkah laku motorik, verbal, emosional, dan sosialnya kurang adaptif, konselor bisa membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat primer maupun sekunder.
Keempat komponen tersebut seperti :
· Motorik: Gerakan, konselor melatih gerak gerik anak supaya anak tersebut
mempunya keterampilan. Latihan yang dilakukan misalnya dengan latihan melukis,atau membuat suatu keterampilan-keterampilan yang lain.
· Verbal: Kata-kata, konselor membimbing anak tersebut dengan melatih
perkataan yang satun,supaya verbal yang terbentuk dalam diri anak tersebut menjadi lebih baik
· Emosional: Emosi/perasaan konselor harus mampu mengerti emosi anak atau
perasaan yang dimilikinya dengan mengerti dengan emosi anak,Konselor bisa lebih mudah untuk membimbing anak tersebut
· Sosial: Pergaulan konselor bisa memberikan pengarahan-pengarahan atau
menghimbau anak tersebut dalam hal bergaul dengan teman atau siapapun di masyarakat.
Keempat komponen diatas dilakukan untuk membentuk sikap yang Adaptif
(mampu menyesuaikan diri).
8. Perkuatan intermiten
Di samping membentuk, perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memelihara tingkah laku yang telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, konselor harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul. Oleh karenanya jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Perkuatan terus menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding dengan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus menerus. Misalkan dalam proses belajar mengajar pada pelajaran matematika, tentu guru tersebut berharap untuk semua siswanya mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Hal ini diupayakan dengan cara memberikan perkuatan-perkuatan positif kepada siswa seperti reward/pujian kepada siswa yang sudah mengerti sehingga ia bisa mengubah tingkah lakunya dalam belajar sehingga sesuai dengan harapan guru mata pelajaran tersebut, dan siswa yang tidak mengerti akan berusaha untuk mengerti dengan menanyakan kepada teman yang sudah mengerti.
Dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada tahap-tahap permulaan konselor harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan. Jika mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera setelah tingkah laku yang diinginkan muncul. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi. Seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, misalnya, memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan apabila si anak hanya diberi pujian sekali-kali. Contoh: misalkan siswa mengalami kesulitan belajar pada materi yang diajarkan, hal pertama yang bisa guru lakukan yaitu dengan cara menanyakan dimana letak kesulitan yang mereka alami, kemudian guru juga bisa memberikan contoh-contoh yang mudah agar siswa dapat mengerjakannya, apabila siswa tersebut sudah bisa mengerjakan soal yang mudah tersebut guru langsung meemberikan perkuatan positif seperti memberikan tepuk tangan dan selamat kepada anak tersebut agar siswa itu dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuannya.
9. Penghapusan
Apabila suatu respons terus menerus dibuat tanpa perkuatan , maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh jadi berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa pengehentian pemberian perkuatan harus serentak akan penuh. Misalnya, jika seseorang anak menunjukkan kebandelan di rumah atau di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa berikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan.
Terapis, guru dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai tehnik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tiak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau dikurangi. Contohnya, seorang anak yang telah belajar bahwa dia dengan mengomel biasanya memperoleh apa yang diinginkan, mungkin akan memperhebat omelannya ketika permintaannya tidak segera dipenuhi. Jadi kesabaran menghadapi periode peralihan amat diperlukan.
10. Percontohan
Dalam percontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura ( 1969) menyatakan bahwa segenap belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan menga,ati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi- konsekuensinya. Jadi kecakapan- kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh engan mengamati dan mencontoh tingkah laku model- model yang ada. Juga reaksi- reaksi emosional yang terganggu yng dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yang mendekati objek- objek atau situasi- situasi yang di takuti tanpa mengalami akibat- akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya . pengendalian diripun bisa dipelajarari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti, dan orang- orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model- model yang menepati status yang tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.
11. Token Economy
Token ekonomy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan. Contoh seperti pada lembar bukti prestasi. Siswa mendapatkan bukti dalam bentuk rewads atau hadiah dari pekerjaan yang dapat ditunjukannya. (Jason, 2009 ; 35).
Token Economy merupakakan sistem perlakuan pemberian penghargaan kepada siswa yang diwujudkan secara visual. Token Economy adalah usaha mengembangkan prilaku sesuai dengan tujuan yang diharapkan melalui penggunaan penghargaan. Setiap individu mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna. (Joson, 2009 ; 66).
Menurut Wallin (1991), Token Economy yang diberikan kepada siswa merupakan dukungan sekunder untuk memperkuat suasana belajar supaya lebih kondusif. Oleh karena itu, penghargaan harus menjadi rangsangan yang netral atau tidak berpihak. Siswa berkompetisi untuk memperolehnya dengan cara mengumpulkan token sebanyak-banyaknya dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa Token economy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan, dengan cara subyek mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna.
a. Tujuan Token Economy Bukti Token Economy dapat digunakan untuk
memenuhi berbagai tujuan pendidikan dalam membangun perilaku siswa. Penggunaan sistem time token ekonomi memiliki tujuan :
· Meningkatnya kepuasan dalam mendorong peningkatan kompetensi siswa
melalui penghargaan yang kongkrit atau visual sehingga tingkat kesenangan siswa melakukan sesuatu prestasi benar-benar tampak.
· Meningkatnya efektivitas waktu dalam pelaksanaan pembelajaran. Belajar yang
efektif adalah yang menggunakan waktu yang pendek dengan hasil yang terbaik dan terbanyak. Siswa harus menyadari berapa lama mereka telah belajar dan berapa banyak waktu yang telah mereka gunakan secara efektif untuk melaksanakan aktivitas belajar.
· Berkurangnya kebosanan – Suasana belajar yang kolaboratif, rivalitas,
kompetitif yang diberi penguatan oleh pendidik dapat meningkatkan menurunkan tingkat di kebosanan siswa sehingga siswa dapat berpartisipasi dalam jangka waktu yang yang lama.
· Meningkatnya daya respon – Suasana belajar yang kompetitif akan
meningkatkan kecepatan siswa meberikan respon. Setiap respon yang sesuai dengan tujuan akan segera mendapat penguatan sehingga suasana belajar menjadi cair, komunikatif dan lebih menyengkan.
· Berkembangnya penguatan yang lebih alami, – melalui pemberian penguatan
yang tepat waktu akan dan disesuaikan dengan tingkat prestasi setiap siswa atau setiap kelompok siswa memungkinkan
· Meningkatnya penguatan untuk sehingga motivasi belajar berkembang – setiap
siswa atau setiap kelompok siswa dalam kelas selalu dalam keadaan terpacu untuk mewujudkan dan daya pacu ini akan semakin berkembang jika siswa juga mendapat layanan untuk mengabadikan daya kompetisinya seperti dengan dukungan rekaman video.
b. Komponen Token Economy. Sebelum kegiatan belajar dilaksanakan pendidik
menyiapkan beberapa komponen yang dibutuhkan, di antaranya:
· Token atau simbol praktis dan atraktif untuk memicu tumbuhnya motivasi
belajar. Yang dapat digunakan sebagai simbol penghargaan seperti stiker, guntingan kertas, simbol bintang, atau uang mainan. Token sendiri tidak selalu dalam bentuk yang berharga, namun setelah siswa mengoleksinya setelah menunjukan prilaku yang diharapkan mereka dapat menukarkan token itu dengan sesuatu yang berharga. Dengan demikian setelah satu rentang waktu tertentu guru harus menyediakan barang penukar token yang berharga untuk siswa. Yang paling mudah seperti permen, alat tulis atau benda berharga lain yang dapat sekolah biayai.
· Definisi target prilaku jelas. Hal itu berarti guru maupun siswa perlu memahami
dengan baik prilaku yang diharapkan. Siswa memahami benar prilaku seperti apa yang harus ditunjukannya sebagai hasil belajar. Penjelasan harus singkat namun cukup sebagai dasar pemahaman siswa mengenai hadiah yang dapat diperlehnya setelah menunjukan prestasi.
· Dukungan penguatan (reinforcers) dengan barang yang berharga. Dukungan itu
dapat dalam bentuk barang berharga, hak istimewa, atau aktivitas individu yang dapat ditukar dengan makanan, perangkat permainan, waktu ekstra.
· Sistem penukaran token atau simbol. Sukses penyelenggaraan token ekonomi
sangat bergantung pada sukses dalam memberikan penguatan yang dapat ditukarkan dengan nilai yang sebanding dengan prestasi yang dicapai.
· Sistem dokumentasi atau perekaman data. Pemberian penghargaan yangtepat
sangat bergantung pada ketepatan menghimpun data. Oleh karena itu alat perekam dapat membantu meningkatkan proses ini sehingga informasi dari proses pembelajaran dapat dikelola dengan tingkat akurasi yang tinggi.
· Konsistensi dalam implementasi, untuk menjunjung konsistensi itu sebaiknya
terdapat panduan teknis yang tertulis sebagai pegangan pelaksanaan tugas sehingga apa yang direncanakan itulah yang dilaksanakan.
c. Langkah-langakah pelaksanaan Token Economy
Mengacu pada pemikiran Robinson T.J. Newby dan S.L. Ganzell, (1981) merumusakan bahwa langkah utama dalam pelaksanaan sistem token ekonomi dapat dikembangkan sebagai berikut :
· Menentukan target prilaku atau kompetensi yang dapat siswa tunjukan. Guru
memilih masalah penting sebagai target. Definisikan dengan jelas, harus dalam bentuk penyataan positif, dan harus dalam prilaku hasil belajar yang dikembangkan dalam bimbingan pembelajaran dalam kelas.
· Menentukan motode bagaimana langkah-langkah untuk memperoleh
penghargaan dan nilai dari setiap penghargaan. Barkley (1990) memberi contoh untuk anak-anak umur 4-7 thaun menggunakan guntingan kartu berbentuk bintang, model perangko atau stiker. Setiap perangkat penghargaan diletakan siswa di atas meja belajarnya dalam kelas.
· Identifikasi nilai atraktif penghargaan. Mengembangkan penghargaan sebagai
sesuatu yang berarti, praktis dan atraktif sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal penting yang dapat meningkatkan makna adalah keterlibatan siswa dalam proses memilih dan menyusun jenis dan nilai penghargaan. Dalam hal ini siswa dapat memperoleh kebebasan menentukan waktu
· Menentukan Tujuan, jumlah token yang dapat diperoleh serta nilai yang
diperoleh untuk setiap penghargaan yang diperoleh.
Implementasi kegiatan ini memerlukan langkah lanjut :
· Penjelasan Program Kepada Siswa. Penjelasan mengenai program harus jelas.
Siswa harus memahami aturan main sebelum belajar dimualai agar mereka dapat memanfaatkan waktu belajar secara optimal. Sejumlah penghargaan kepada siswa diberikan di antaranya karena ketepatan dan kecepatan menunjukan prilaku positif yang diharapkan.
· Guru memberikan masukan. Guru harus menentukan kapan hadiah akan
didistribusikan, dengan ketentuan seperti apa, dan bagaimana siswa dapat memperoleh penghargaan, tata tertib seperti bagaimana? Pemberian penghargaan dapat guru lakukan tidak hanya sebatas dalam kurun waktu satu dua jam pelajaran, namun dapat pula menggunakan waktu berharihari, berminggu-minggu atau dalam satu semester sepanjang guru dapat memelihara kondisi tingkat revalitas, persaingan dan daya kolaborasi dapat terus dikobarkan sehingga berdampak positif terhadap hasil belajar siswa.
· Guru pengatur penghargaan. Guru memberikan penghargaan dengan
memperhatikan tercapainya tujuan pembelajaran. Kejuaraan diperoleh dari pengumpul hadiah terbanyak. Hal itu berarti menjadi siswa yang berlajar paling efektif sehingga mencapai prilaku yang diharapkan. Jika siswa berhasil dalam satu hari dan ia tidak mendapatkan di waktu lain adalah sesuatu yang baiasa.
2.8 Kontribusi Pendekatan Konseling
1. Kontribusi
Kontribusi dari teori konseling behavioral adalah :
· Dengan memfokuskan pada perilaku khusus bahwa klien dapat berubah,
konselor dapat membantu klien kea rah pengertian yang lebih baik terhadap apa yang harus dilakukan sebagai bagian dari proses konseling.
· Dengan menitikberatkan pada tingkah laku khusus, memudahkan dalam
menentukan kriteria keberhasilan proses konseling.
· Memberikan peluang pada konselor untuk dapat menggunakan berbagai teknik
khusus guna menghasilkan perubahan perilaku.
2.9 Keterbatasaan dan Kritik Terhadap Konseling Behavioristik.
a. Keterbatasan Teori Konseling Behavioral adalah :
· Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan
penemuan diri atau aktualisasi diri.
· Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam
interaksinya dengan konselor.
· Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki
permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
· Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan
hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.
b. Kritik untuk Teori Konseling Behavioral adalah :
· Terapi tingkah laku tidak menangani penyebab-penyebab, tetapi lebih
manangani ke gejala-gejala
· Terapi tingkah laku tidak diterapkan pada orang yang taraf berfungsinya relatif
tinggi
· Terapi tingkah laku bisa diterapkan hanya pada kecemasan-kecemasan yang
spesifik, fobia-fobia dan masalah-masalah yang terbatas
· Modifikasi tingkah laku tidak berfungsi
· Modifikasi tingkah laku bekerja “terlalu baik”
· Terapi tingkah laku bisa mengubah tingkah laku, tetapi tidak mengubah
perasaan-perasaan
· Terapi tingkah laku mengabaikan pentingnya hubungan terapis klien dalam
terapis
· Terapi tingkah laku tidak memberikan insight. Karena seringnya, terapi perilaku
tidak
· fokus pada masa lalu klien sehingga seringnya terapis tidak membahasnya
meskipun sebenarnya terapis mengetahui masalah tersebut.
· Terapi tingkah laku mengabaikan penyebab-penyebab historis dari tingkah laku
sekarang
2.10 Contoh Kasus
Jono baru saja beranjak dari SMP menuju SMA. Ia masuk ke SMA yang terkenal sebagai SMA yang dihuni oleh orang-orang kelas atas. Padahal ia berasal dari keluarga yang tergolong menengah kebawah. Awalnya orang tua Jono tidak memperbolehkan Jono masuk kesekolah tersebut karena takut Jono terpengaruh gaya hidup mereka. Namun paksaan Jono yang yang sedemikian rupa membuat orang tuanya luluh juga.
Setelah beberapa lama berada disekolah itu, Jono seperti mengalami diskriminasi karena ia tidak pernah mau untuk ikut bermain dengan teman-temannya saat ia diajak. Sedikit demi sedikit, Ia mulai merasa dikucilkan. Awalnya, ia tidak terpengaruh. Namun lama kelamaan, ia mulai merasa kesepian. Bahkan, teman-temannya senang sekali mengerjai Jono. Perilaku teman-temannya mulai membuat Jono tidak fokus. Prestasi belajar mulai menurun. Ini membuat Jono selalu stress.
Keadaan seperti ini mulai mengubah Jono. Jono yang selama ini selalu rendah hati mulai merasa harus seperti teman-temannya. Akhirnya muncul juga keinginan untuk bermain dengan teman-teman. Ia mencuri uang orang tuanya untuk bisa berpenampilan seperti teman-temannya. Keadaan hidup seperti ini membuat ia tak nyaman. Ia ingin sekali tidak seperti ini, namun itu hanya tinggal keinginan saja. Ketakutan akan dikucilkan membuat ia tetap menjalankan kebiasaan buruk ini.
bagi pembaca blog, silahkan jika ingin copas artikel ini, tapi sebaiknya dibaca dan diteliti lagi sekiranya ada kesalahan. tetapi saran saya adalah, "sebaik-baiknya karya orang lain, tidak lebih bermakna dari karya anda sendiri".
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pandangann Behavior Terhadap Hakikat Manusia
Jika psikoanalisa memfokuskan manusia hanya pada totalitas kepribadian (yang hanya tingkah laku yang tidak nampak) tetapi teori ini memfokuskan perhatiannya lebih menekan pada perilaku yang nampak, yakni perilaku yang dapat diukur, diramalkan dan di gambarkan.
Manusia oleh teori behaviorisme disebut sebagai Homo Mechanicus, artinya manusia mesin. Mesin adalah suatu benda yang bekerja tanpa ada motif dibelakangnya, mesin berjalan tidak larena adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena lingkungan sistemnya. Jika mobil kehabisan bensin pasti tidak hidup, jika businya kotor juga mesin mati, jika unsur-unsur lingkungannya lengkap pasti berjalan lancar. Tingkah laku mesin dapat diukur, diramalkan dan di gambarkan. Manusia, menurut teori behaviorisme juga demikian. Selain insting, seluruh tingkah laku nya merupakan hasil belajar. Belajar ialah perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Orang batak yang di pinggir pantai laut bicaranya selalu keras,. Karena lingkungan menuntut keras, yakni bersaing dengan suara ombak, sedangkan orang jawa yang hidupnya di perkampungan yang lenggang, bicarnya seperti berbisik-bisik, karena lingkungan tidak menuntut suara keras, berbisk-bisik pun terdengar.
Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik atau buruk, rasionil atau emosionil. Behavirisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku manusia dekendalikan oleh lingkungan. Manusia dalma pndangan teori behaviorisme makhluk yang sangat elastis, yang perilaknya sangant di pengaruhi oleh pengalamannya. Manusia munuirut teori ini dapat dibentuk dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Seorang anak misalnyadapat di bentuk perilakunya menjadi seorang panakut jika secara sistematis ia di takut-takuti. Demikian juga manusia dapat dibentuk menjadi pemberani, disiplin, cerdas, dungu dan sebagainya dengan menciptakan lingkungan yang relevan.
Dalam teori ini manusia dipandang sangat rapuh tak berdaya menghadapi lingkungan ia dibentuk begitu saja oleh lingkungan tanpa mampu melakukan perlawanan. Aristoteles, yang dianggap sebagai cikal bakal teori behaviorisme memperkenalkan teori tbularasa. Yakni bahwa manusia itu tak ubahnya meja lilin yang siap di lukis dengan tulisan apa saja. Jika kita berpegang pada teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa mahasiswa dapat dibentuk maenjadi apasaja (penurut, pemberontak, dan sebagainya) oleh dosenya atau Universitasnya, dan untuk itu kurikulum serta alat-alat stimulasi bisa dirancang.
2.2 Karakteristik dan Asumsi Dasar Konseling Behavioristik
a. Konsep Dasar Konseling.
Menurut Skinner, perilaku manusia atas konsekuensi yang diterima. Apabila perilaku mendapat ganjaran positif, maka individu akan meneruskan atau mengulangi tingkah lakunya, sebaliknya apabila perilaku mendapat ganjaran negatif (hukuman), maka individu akan menghindari atau menghentikan tingkah lakunya. Pendekatan behavioral lebih berorientasi pada masa depan dalam menyelesaikan masalah. Inti dari behavioral adalah proses belajar dan lingkungan individu. Konseling behavioral dikenal sebagai ancangan yang pragmatis.
Corey (2001) mengatakan bahwa konseling behavioral yang modern tidak mempunyai asumsi deterministik tentang manusia yang menganggap manusia hanya sebagai produk dari kondisioning sosiokultur. Individu adalah hasil produksi dan juga yang memproduksi lingkungannya. Corey melihat Skinner sebagai penganut teori tingkah laki yang radikal yang tidak mengakui kemungkinan diri sebagai penentu dan kebebasan diri. Kecenderungan sekarang adalah untuk mengajarkan pengendalian kepada konseli, dengan demikian meningkatkan kebebasan mereka. Modifikasi tingkah laku bertujuan meningkatkan keterampilan individu sehingga mereka mempunyai lebih banyak pilihan dalam memilih suatu tingkah laku.
Perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin. Kontribusi terbesar konseling behavioral adalah bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan perilaku. Dasar teori konseling behavioral adalah bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi :
· Belajar waktu lalu hubungannya dengan keadaan yang serupa
· Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan lingkungan
· Perbedaan-perbedaan biologic baik secara genetic atau karena gangguan
fisiologik.
Dengan eksperimen-eksperimen terkontrol secara seksama maka menghasilkan hokum-hukum yang mengontrol perilaku tersebut.
b. Karakter Konseling Behavioral.
Karakter konseling behavioral adalah sebagai berikut:
· Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
· Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat
membantu dalam merubah perilaku-perilaku yang relevan; prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
· Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social
modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
· Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan
dalam perilaku-perilaku khusus konseli diluar dari layanan konseling yang diberikan.
· Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap, atau ditentukan sebelumnya,
tetapi dapat secara khusus didisain untuk membantu konseli dalam memecahkan masalah khusus.
c. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah
Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang salah hakekatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungan. Tingkah laku maladaftif terjadi karena kesalahpahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.
2.3 Tujuan Konseling
Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :
· Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
· Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
· Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
· Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau
maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
· Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive,
memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
· Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan
bersama antara konseli dan konselor.
2.4 Fungsi dan Peran Konselor
Hakikatnya fungsi dan peranan konselor terhadap konseli dalam teori behavioral ini adalah :
· Mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk memberi fasilitas
pada penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
· Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan
seseorang dari perilaku yang mengganggu kehidupan yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki sepanjang sasaran itu sesuai dengan kebaikan masyarakat secara umum.
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatmen, yakni terapis menerapkan pengtahuan ilmiyah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah-masalah manusia, pada kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengaruh, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalm menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang,diharapkan,mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.
Sebagai hasil tinjauannya yang seksama atas kepustakaan psikoterapi, Krasner (1967) mengajukan argumen bahawa peran seorang terapis dari aliansi teoritisnya, sesungguhnya adalah “mesin perkuatan”. Apa pun yang dilakukannya terapis pada dasarnya terlibat dalam pemberian perkuatan-perkuatan sosial baik yang positif maupun yang negatif. Bahkan meskipun mempersiapkan dirinya sebagai pihak yang netral sehubungn dengan pertimbangan-pertimbangan nilai, terapis membentuk tingkah lakuklien, baik melalui cara langsung maupun tidak secara langsung. Krasner (1967) menandakan bahwa “ terapis atau pemberi pengaruh adalah suatu ‘mesin pengkuatan’. Yang dengan kehadirannya memasok perkuatan yang dilegenerarisasikan pada setiap kesempatan dalam situasi terapi, terlepas dari tekhnik ataw keperibadian yang terlibat” (h,202) ia menyatakn bahwa tingkah laku klien tunduk pada manifulasi yang halus pada tingkah laku terapis yang memperkuat. Hal itu acap kali tanpa di sadari, baik oleh klien maupun oleh terapis. Krasner (1967), dengan mengutif kepustakaan,menunjukkan bahwa peran terapis adalah memanipulasi dan mengendalikan psikoterapi dengan pengetahuan dan kecakapannya menggunakan teknik-teknik belajar dalam suatu situasi perkuatan sosial. Krasner lebih lanjut mennyatakan bahwa, meskipun sebagian besar terapis tidak senang dengan peran “pengendalian” atau “manipulator” tingkah laku, istilah-istilah tersebut menerangkan secara cermat apa sesungguhnya apa peran terapis itu. Ia mengutip bukti untuk menunjukkan bahwa, atas dasar perannya, terapis “ memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan tingkah laku dan nilai-nilai manusia lain. Ketidaksedian terapis untuk menerima situasi ini dan trus menerus tidak menyadari efek-efek tingkah lakunya atas para pasiennya itu pun tidak etis” (h, 204).
Goodstein (1972) juga menyabut peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Menurut Goodstein, “peran konselor adalah menunjangf perkembangan tingkah laku yang secara sosial layak dengan secara sistematis memperkuat jenis tingkah laku klieb semacam itu” (h,274). Minat, perhatian, dan persetujuan (ketidak berminatan dan ketidak setujuan) terapis adalah pemerkuat-pemerkuat yang hebat bagi tingkah laku klien. Pemerkuat-pemerkuat tersebut bersifat interpersonal dan melibatkan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, serta acap kali tanpa disertai kesadaran yang penuh dari terapi. Goodstain menyatakan bahwa peran mengendalikan tingkah laku klien yang dimainkan oleh terapis melalui perkuatan menjangkau situasi di luar konseling serta di masukkan ke dalam tingkah laku klien dalam dunia nyata: “konselor mengajar respon-respon tertentu yang di laporkan telah di tampilkan telah di tampilkan oleh klien dalam situasi-situasi khidupan nyata dan menghukum, respon-respon yang lainnya. Ganjaran-ganjaran itu adalah persetujuan, minat, dan keprihatinan. . . perkuatan semacam itu penting terutama pada periode ketika klien mencoba respon-respon atau tingkah laku baru yang belum secara tetap di beri perkuatan oleh orang lain dalam kehidupan klien” (h, 275). Salah satu penyebab munculnya hasil yang tidak memuaskan adalah bahwa terapis tidak cukup memperkuat tingkah laku yang baru di kembangkan oleh klien.
Satu fungsi penting lainya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Banduara (1969) menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia mengunkapkan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan klien bisa mempelajari tingkah laku baru adalah imitasi atau contoh sosial yang disajikan oleh terapis. Terapis sebagai pribadi , menjadi model yang penting bagi klien. Karena klien sering memandang terapis sebagi orang yang patut di taladani, klien acap kali meniru sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaan dan tingkah laku terapis. Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang di mainkannnya dalam proses identifikasi. Bagi terapis, tidak mennyadari kekuatan dirinnya dalam mempengaruhi dan membentuk cara berpikir dan bertindak kliennya, berarti mengabaikan arti penting kepribadiannya sendri dalam proses terapi.
2.5 Pengalaman Konseli dalam Proses Konseling
Hal unik dalam konseling Behavioristik adalah adanya peran konseli yang ditentukan dengan baik dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses konseling.
Keterlibatan konseli dalam proses konseling dalam kenyataannya menjadi lebih aktif, dan tidak hanya sebagai penerima teknik-teknik yang pasif. Konseli didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku yang baru, sebagai pengganti tingkah laku yang salah suai.
Salah satu sumbangan yang unik dari terapi tingkah laku adalah suatu sistem prosedur yang ditentukan dengan baik yang digunakan oleh terapis dalm hubungan dengan peran yang jyga ditentukan dengan baik. Terapi tingkah laku juga memberikan kepada klien peran yang ditentukan dengan baik, dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi klien dalam proses terapeoutik. Carkhuff dan Berenson (1967) menunjukkan bahwa sekalipun klien boleh jadi berada dalam peran sebagai “penerima tekhnik-tekhnik yang pasti”. Ia diberi keterangan yang cukup tentang tekhnik-tekhnik yang di gunakan. Mereka menyatakan bahwa “sementara terapis memiliki tanggung jawab utama. Klien dalah fokus perhatian disertai sedikit perhatian pada nilai-nilai sosial, pengaruh orangtua, dan proses-proses tak sadar. Para terapis modifikasi tingkah laku pertama-tama harus memberikan keterangan rinci mengenai apa yang ada dan akan dilakukan pada setiap tahap proses treatment” (h,92).
Keterlibatan klien dalam proses terapeutik karenannya harus dianggap sebagai kenyataan bahwa klien menjadi lebih aktif alih-alih menjadi penerima tekhnik-tekhnik yang pasif seperti diisyratkan oleh Carkhuff dan berenson. Jelas, klien harus secara aktif terlibat dalam pemilihan dan penentuan tujuan-tujuan, harus memiliki motifasi untuk berubah, dan bersedia bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan terapioutik baik selama pertemuan-pertemuan terapi maupun di luar terapi, dalam situasi-situasi kehidupan nyata. Jika klien tidak secara aktif terlibat dalam prose terapeutik, maka terapi tidak akan membawa hasil-hasil yang memuaskan.
Marquis (1974), yang menggunakan prinsip-prinsip pendekatan behavioral untuk menunjang pengubahan kepribadian yang efektif, memandang perlunya peran aktif klien dalam proses terapi. Melalui model terapi tingkah laku, Marquis menguraikan program tiga fase yang melibatkan partisipasi klien secara penuh dan aktif. Pertama, tingkah laku klien sekarang di analisis dan “pemahaman yang jelas menjangkau tingkah laku akhir dengan partisipasi aktif dari klien dalam setiap bagian dari proses pemasangan tujuan-tujuan” (h, 368). Kedua, cara-cara alternatif yang bisa di ambil oleh klien dalam upaya mencapai tujuan-tujuan, dieksplorasi. Ketiga, suatu program treatment direncanakan, yang biyasannya berlandaskan langkah-langkah kecil yang bertahap dari tingkah laku klien yang sekarang menuju tingkah laku yang di harapkan membantu klien dalam mencapai tujuannya.
Suatu aspek yang penting dari peran klien dalam terapi tingkah laku adalah, klien di dorong untuk breksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendarahaan tingkah laku adaptifnya. Dalam terapi, klien dibantu untuk menggeneralisasi dan mentransper belajar yang diperoleh di dalam situasi terapi kedalam situasi di luar terapi. Lagi-lagi, pendekatan ini menggarisbawahi pentingnnya keterlibatan aktif dan kesediaan klien untuk memperluas dan menerapkan tingkah laku barunnya pada situasi-situasi kehidupan nya.
Terapi ini belum lengkap apabila verbalisasi-verbalisasi tidak atau belum diikuti oleh tindakan-tindakan. Klien harus berbuat lebih dari sekedar memperoleh pemahaman-pemahaman, sebab dalam terapi tingkah laku klien harus bersedia mengambil resiko. Bahwa masalah-masalah kehidupan nyata harus dipecahkan dengan tingkah laku baru di luar terapi, berarti fase tindakan merupakan hal yang esensial. Keberhasilan dan kegagalan usaha-usaha menjalankan tingkah laku baru adalah bagian yang vital dari perjalanan terapi.
2.6 Hubungan Konselor dengan Konseli
Ada suatu kecendrungan yang menjadi bagian dari sejumlah kritik untuk menggolongkan hubungan antara terapis dank klien dalam terapi tingkah laku sebagai hubungan yang mekanis, manipulatif, dan sangat impersonal. Bagaimanapun, sebagian besar penulis di bidang terapi tingkah laku. Khususnya Wolpe (1958.1969). menyatakan bahwa pembentukan hubungan pribadi yang baik adalah salah satu aspek yang esensial dalam proses terapeutik. Sebagaimana di singgung di muka. Peran terapis yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah laku tidak di cetak untuk memainkan peran yang dingin dan impersonal yang mengerdilkan mereka menjadi mesin – mesin yang deprogram yang memakakan teknik – teknik kepada para klien yang mirip robot – robot.
Bagaimanapun, tampak bahwa pada umumnya terapis tingkah laku tidak memberikan peran utama kepada variable – variable hubunan terapis – klien. Sekalipun demikian. Sebagian besar dari mereka mengakui bahwa faktor – faktor seperti kehangatan, empati, keotentikan, sikap permisif, dan penerimaan adalan kondisi – kondisi yang diperlukan, terapi tidak cukup. Bagi kemunculan perubahan tikah laku dalam proses terapeutik. Tentang persoalan ini Goldstein (1973) menyatakan bahwa pengembangan hubungan kerja membentuk tahap bagi kelangsunggan terapi. Ia mencatat bahwa hubngan semacam itu dalam dan oleh dirinya sendiri tidak cukup sebagai pemaksimal terapi yang efektif (h. 220). Sebelum intervensi terapeutik tertentu bisa dimunculkan dengan suatu derajat keefektifan. Terapi terlebih dahulu harus mengembangkan atmosfer kepercayaan dengan memperlihatkan bahwa
· Ia memahami dan menerima pasien
· Kedua orang di antara mereka bekerja sama dan
· Terapi memiliki alat yang berguna dalam membantu ke arah yang dikehendaki
oleh pasien.
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli. Konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling.
2.7 Teknik-Teknik dan Prosedur Konseling
Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk pola tingkah laku) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru akan dapat dibentuk.
Teknik Umum
Teknik Khusus
1. Shaping
2. Extinction
3. Reinforcing uncompatible behaviors
4. Imitative Learning
5. Contracting
6. Cognitive learning
7. Covert Reinforcement
1. Assertive Training
2. Latihan respon-respon seksual
3. Relaksasi
4. Desensitisasi Sistematis
Salah satu sumbangan terapi tingkah laku adalah pengembangan prosedur-prosedur terapeutik yang spesifik yang memiliki kemungkinan untuk diperbaiki untuk metode ilmiah. Teknik-teknik terapi tingkkah laku harus menunjukan keefektifannya melalui alat-alat yang objektif.
Adapun ada beberapa teknik dalam penerapan terapi behavior atau tingkah laku ini, antara lain adalah :
1. Desensitisasi Sistematik
Merupakan salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam konseling tingkah laku. Desensitisasi sistematik di gunakan untuk mengapus tingkah laku yang di perkuat secara negatif, dan ia menyatakan pemunculan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik- teknik relaksasi. Konseli di latih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaindari yang sangat tidak mengancam.
Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasangakan secara berhulang-ulang dengan stimulus –stmulus penghasil keadaan santai sampai kaitan antara stimulus-stimulus kecemasan respons kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini Wolpe telah mengembangkan suatu respons-yakni relaksasi, yang secarafisiologis bertentangan dengan kecemasan yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek –aspek dari situasi yang mengancam. Desensititasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia. Desensitisasi sistematik bisa di terapkan secara efektif pada berbagai situasi peng hasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang generalisasi, kecemasan-kecemasan neurotic, serta impotensa dan frigiditas seksual. Wolpe (1969) mecatat 3 penyebab kegagalan dalam pelaksanaan desensitisasi sistematik :
a. Kesulitan-kesulitan dalam relaksasi, yang bisa jadi menunjuk kepa kesulitan-
kesulitan dalam komunikasi antara konselor dan konseli atau kepada keterhambatan yang ekstrem yang di alami oleh konseli
b. Tingkatan-tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan ,
c. Ketidak memadai dalam membayangkan .
2. Terapi Implosif dan Pembanjiran
Teknik-teknik pembanjiran berlandaskan paradigma mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan. Dalam teknik pembanjiran terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran yang disebut ‘ terapi implosif’ seperti halnya dengan desensitisasi sistematik, terapi implosif berasumsi bahwa tingkah laku neurotik (Penderita) melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa, jika seseorang secara berulang-ulang dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekwensi-konsekwensi yang di harapkan dan menakutkan tidak muncul, stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, dan penghindaran neurotik pun terhapus.
Stampfl (1975) mencatat beberapa contoh bagaimana terapi implosif berlangsung. Ia melukiskan seorang klien yang mengalami kecendrungan-kecendrungan obsesif kepada kebersihan. Klien mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari dan memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap kuman.
a. Prosedur-prosedur penanganan klien mencakup Pencarian stimulus-stimulus
apa yang memicu gejala-gejala apa
b. Menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu
membentuk tingkahlaku klien
c. Meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang
dijabarkannya tanpa disertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya
d. Bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien
dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin di hindarinya, dan
e. Mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul
dalam diri klien
Stampfl (1975) Mencatat sejumlah studi yang membuktikan kemanjuran terapi implosif dalam menangani para pasien gangguan jiwa yang dirumahsakitkan, para pasien neurotik, para pasien psikotik dan orang-orang yang menderita fobia-fobia.Stampfl menyatakan bahwa terapi implosif berbeda dengan terapi-terapi konvensional dalam arti terapi implosif tidak menekankan pemahaman sebagai agen terapeutik.
3. Latihan Asertif
Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif, yang bisa di terapkan terutama pada situasi interpersonal di mana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang- orang yang:
a. Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung.
b. Menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain
untuk mendahuluinnya.
c. Memiliki kesulitan untuk mengatakan ‘’ tidak’’
d. Mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif
lainnya
e. Merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran
sendiri.
Bagaimana pendekatan ini berlangsung? Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas yang bisa di kemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi atasannya di kantor. Misalnya , klien mengeluh bahwa dia acap kali merasa di tekan oleh atasannya untuk melakukan hal-hal yang menurut penilaiannya buruk dan merugikan serta mengalami hambatan untuk bersikap tegas di hadapan atasannya itu. Pertama-tama klien memainkan peran sebagai atasan, member contoh bagi terapis, sementara terapis mencotohkan cara berpikir daqn cara klien menghadapi atasan. Kemudian mereka saling menukar peran sambil klien mencoba tingkah laku baru dan terapis memainkan peran sebagai atasan. Klien boleh memberikan pengarahan kepada terapis tentang bagaimana memainkan peran sebagai atasannya secara realities , sebaiknyaterapis melatih klien bagaimana bersifat tegas terhadap atasan. Proses pembentukan terjadi ketika tingkah laku baru di capai dengan penghampiran-penghampiran. Juga terjadi penghapusan kecemasan dalam menghadapi atasan dan sikap klien yang lebih tegas terhadap atasan menjadi lebih sempurna.
Tingkah laku menegaskan diri pertama-tama di praktekan dalam situasi permainan peran . dan dari sana di usahakan agar tingkah laku menegaskan diri itu di praktekan dalam situasi situasi kehidupan nyata. Terapis memberikan bimbingan dengan memperlihatkan bagaimana dan bila mana klien bisa kembali ke tingkah laku semula. Tidak tegas serta memberikan pedoman untuk memperkuat tingkah laku menegaskan diri yang baru diperolehnya.
Shaffer dan Galinsky (1974) Menerangkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau latihan ekspresif di bentuk dan berfungsi. Kelompok terdiri dari delapan sampai sepuluh anggota yang memiliki latar belakang yang sama. Dan season terapi berlangsung selama dua jam. Terapis bertindak sebagai penyelenggara dan pengarah permainan peran. Pelatih memberi penguatan dan sebagai model peran. Dalam diskusi-diskusi kelompok terapis bertindak sebagai seorang ahli memberikan bimbingan dalam situasi-situasi permainan peran. Dan memberikan umpan balik kepada para anggota.
Seperti kelompok- kelompok tingkah laku lainnya, kelompok latihan asertif di tandai dengan stuktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas sessions berstruktur sebagai berikut : session pertama yang di mulai dengan pengenalan didaktik tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan respon-respon interbnal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurang tegasan dan pada belajar peran tingkah laku yang baru asertif. Session kedua bisa memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing- masing anggota menenrangkan tingkah laku spesifik dalam situasi-situasi interpersonal yang di rasakannya menjadi masalah. Para anggota kemudian membuat perjanjian untuk menjalankan tingakah laku menegaskan diri yang semula mereka hindari sebelum memasuki session yang selanjutnya. Session ketiga, para anggoata menerangkan tentang tingkah laku menegaskan diri yang telah diu coba di jalankan oleh mereka dalam situasi-situasi kehidupan nyata. Mereka berusaha mengepaluasi, jika mereka belum sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan permainan peran. Session selanjutnya terdiri atas penambahan latihan relaksasi , pengulangan perjanjian untuk menbjalankan tingkah laku menegaskan diri yang di ikuti oleh evaluasi. Session yang terakhir bisa di sesuaikan dengan kebutuhan – kebutuhan individual para anggota. Sejumlah kelompok cenderung berfokus pada permainan peran tambahan . evaluasi dan latihan sedangkan kelompok yang lainnya berfokus pada usaha usaha mensiskusikan sikap-sikap dan perasaan perasaan yang telah membuat tingkah laku menegaskan diri sulit di jalankan.
Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu dalam mengembangkan cara cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi intrapersonal. Fokusnya adalah mempraktekan memulai permaianan peran kecakapan-kecakapan bergaul yang baru di peroleh sehingga individu belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran mereka secara lebih terbuka di sertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukan reaksi-reaksi yang terbuka itu.
4. Terapi Aversi
Teknik-teknik pengondisian aversi yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculanya. Stimulus-stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik dan ramuan yang mengakibatkan mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman. Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan social di tarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekwensinya. Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik terhadap anak autistic ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.
Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling controversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang diinginkan. Kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka alam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. Sebagian besar lembaga social menggunakan prosedur-prosedur aversi untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan yang telah di gariskan: gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguhan pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.
Kendali aversi acap kali menandai hubungan orang tua-anak. Kendali-kendali bisa bekerja secara langsung dan disadari. Baik anak maupun orang tua bisa di kendalikan oleh apa yang terjadi dalam situasi-situasi tertentu., dan boleh jadi situasi-situasi itu tidak bisa di jelaskan. Seorang anak diberi hak istimewa jika dia menyelaraskan diri dengan bertingkah laku sebagaimana yang di harapkan, dan sebaliknya. Anakpun belajar menggunakan kendali aversif terhadap orang tuanya. Dia belajar bahwa orang tuanya memiliki suatu taraf toleransi terhadap tangisan, teriakan, permintaan, dan renekan anak, serta belajar bahwa pada akhirnya orang tuanya itu akan memenuhi permintaanya.
Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering di gunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif, mencakup minumalkohol secara berlebihan, ketergantungan pada obat bius, merokok, obsesi-obsesi, kompulsi-kompulsi, fetisisme, berjudi, homoseksualitas, dan penyimpangan seksual seperti pedofolia. Teknik ini merupkan metode yang utama dalam penanganan alkoholisme. Seorang alkoholik tidak dipaksa untuk menjauhkan diri dari alcohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol diseratai pemberian ramuan yang membuat alkoholik merasa mual, dan kemudian muntah. Si alkoholik lambat laun akan merasa sakit bahkan meskipun hanya melihat botol alkohol. Pengetahuan tentang pengaruh-pengaruh buruk dari alkohol cenderung menghambat alkoholisme, tetapi terdapat kemungkinan bahwa alkoholik kembali kepada kebiasaan semula setelah periode penahanan diri yang singkat. Selain pada penanganan alkoholisme, prosedur-prosedur aversi telah digunakan secara berhasil pada penanganan-penanganan penyimpangan-penyimpangan seksual dengan mengasosiasikan stimulus yang menyakitkan dengan objek atau tindakan seksual yang tidak layak.
Butir yang penting adalah bahwa maksud prosedur-prosedur aversif iyalah menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaftifdalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternative yang adaptif dan yang akan terbukti memperkuat dirinya sendiri. Satu kesalahpahaman yang popular adalah bahwa teknik-teknik yang berlandasan hukuman merupakan perangkat yang paling penting bagi para terapis tingkah laku. tingkah laku. Hukumanjangan sering digunakan meskipun mungkin para klien sendiri menginginkan penghapusan tingkahlaku yang tak diinginkanya melalui penggunaan hukuman. Apabila cara-cara yang merupakan alternatifbagi hukuman tersedia, maka hukuman jangan digunakan. Cara-cara yang positif yang mengarahkan kerusak dari pada tingkah lakuyang baru dan lebih layak harus dicari dan di gunakan sebelum terpaksa menggunakan pemerkuat-pemerkuat negative. Acap kali tingkah laku bisa di ubah hanya dengan menggunakan perkuatan positif yang mengurangi kemungkinan terbentuknya efek-efek samping yang merusak dari hukuman. Di samping itu, jika hukuman di gunakan, bentuk-bentuk tingkah laku adaptif yang merupakan alternative perlu secara jelas dan secara spesifik di gambarkan secara hukuman harus di gunakan dengan cara-cara yang tidak mengakibatkan klien merasa di tolak sebagai pribadi. Yang juga penting adalah klien dibantu agar ia mengetahui bahwa konsekuensi-konsekuensi aversif diasosiasikan hanya dengan tingkah laku maladaptive yang spesifik.
Skinner (1948-1971) Adalah salah seorang tokoh yang secara terang-terangan menentang penggunaan hukuman sebagai cara untuk mengendalikan hubungan-hubungan manusia ataupun untuk mencapai maksud-maksud lembaga-lembaga masyarakat. Menurut Skinner perkuatan positif jauh lebih baik efektif dalam mengendalikan tingkah laku karena hasil-hasilnya lebih bisa diramalkan serta kemungkinan timbulnya tingkah laku yang tidak diingankan akan lebih kecil. Skinner berpendapat bahwa hukuman adalah sesuatu yang buruk, meskipun bisa menekan tingkah laku yang diinginkan, tidak melemahkankecenderungan untuk merespon bahkan kalaupun ia untuk sementara menekan tingkah laku tertentu. Akibat-akibat yang tidak tidak diinginkan, menurut Skinner, berkaitan dengan penggunaan pengendalian aversif maupun penggunaan hukuman.
Apabila hukuman digunakan, maka terdapat kemungkinan terbentuknya efek-efak samping emosional tambahan seperti:
a. Emosional tambahan seperti tingkah laku yang tidak diinginkan yang dihukum
boleh jadi akan ditekan hanya apa bila penghukum hadir
b. Jika tidak ada tingkah laku yang menjadi alternatif bagi tingkah laku yang
dihukum, maka individu ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan,
c. Pengaruh hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang
berkaitan dengan tingkah laku yang dihukum, Misalnya; Seorang anak yang dihukum karena kegagalannya di sekolah boleh jadi akan membenci semua pelajaran, sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci belajar pada umumnya.
Jadi, seorang anak yang dihukum karena kegagalanya di sekolah boleh jadi akan membenci semuapelajaran sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci belajar pada umumnya.
5. Pengondisian Operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme yang aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup membaca, berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dan lain-lain. Menurut Skinner (1971), jika suatu tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut dimasa mendatang akan tinggi.Perubahan tingkah laku yang dikondisikan, diberikan dalam kurun waktu tertentu dan target tertentu. Contonya pemberian hadiah jika seorang anak yang mendapatkan ranking.
6. Perkuatan positif
Perkuatan positif adalah suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau penghargaan positif setalah tingkah laku yang diharapkan itu muncul. Cara ini sangat ampuh untuh mengubah tingkah laku yang tidak baik menjadi baik. Ada pemerkuat – pemerkuat untuk perkuatan positif adalah sebagai berikut :
a. Pemerkuat primer adalah memuaskan kebutuhan fisiologis. Contoh : makanan,
minuman, tidur/istirahat, rumah, dan pakaian.
b. Pemerkuat skunder adalah memuaskan kebutuhan psikologis dan sosial.
Pemerkuat skunder bias menjadi alat yang sangat ampuh untuk merubah tingkah laku diharapkan dari tidak baik menjadi baik. Contoh : memberikan senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas/ medali/ tanda penghargaan, uang, dan hadiah.
7. Pembentukan respons
Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam pembendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. Jadi, misalnya, jika seorang guru ingin membentuk tingkah laku kooperatif sebagai tingkah laku kompetitif, dia bisa memberikan perhatian dan persetujuan kepada tingkah laku yang diinginkannya itu. Pada anak autisik yang tingkah laku motorik, verbal, emosional, dan sosialnya kurang adaptif, konselor bisa membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat primer maupun sekunder.
Keempat komponen tersebut seperti :
· Motorik: Gerakan, konselor melatih gerak gerik anak supaya anak tersebut
mempunya keterampilan. Latihan yang dilakukan misalnya dengan latihan melukis,atau membuat suatu keterampilan-keterampilan yang lain.
· Verbal: Kata-kata, konselor membimbing anak tersebut dengan melatih
perkataan yang satun,supaya verbal yang terbentuk dalam diri anak tersebut menjadi lebih baik
· Emosional: Emosi/perasaan konselor harus mampu mengerti emosi anak atau
perasaan yang dimilikinya dengan mengerti dengan emosi anak,Konselor bisa lebih mudah untuk membimbing anak tersebut
· Sosial: Pergaulan konselor bisa memberikan pengarahan-pengarahan atau
menghimbau anak tersebut dalam hal bergaul dengan teman atau siapapun di masyarakat.
Keempat komponen diatas dilakukan untuk membentuk sikap yang Adaptif
(mampu menyesuaikan diri).
8. Perkuatan intermiten
Di samping membentuk, perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memelihara tingkah laku yang telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, konselor harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul. Oleh karenanya jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Perkuatan terus menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding dengan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus menerus. Misalkan dalam proses belajar mengajar pada pelajaran matematika, tentu guru tersebut berharap untuk semua siswanya mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Hal ini diupayakan dengan cara memberikan perkuatan-perkuatan positif kepada siswa seperti reward/pujian kepada siswa yang sudah mengerti sehingga ia bisa mengubah tingkah lakunya dalam belajar sehingga sesuai dengan harapan guru mata pelajaran tersebut, dan siswa yang tidak mengerti akan berusaha untuk mengerti dengan menanyakan kepada teman yang sudah mengerti.
Dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada tahap-tahap permulaan konselor harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan. Jika mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera setelah tingkah laku yang diinginkan muncul. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi. Seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, misalnya, memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan apabila si anak hanya diberi pujian sekali-kali. Contoh: misalkan siswa mengalami kesulitan belajar pada materi yang diajarkan, hal pertama yang bisa guru lakukan yaitu dengan cara menanyakan dimana letak kesulitan yang mereka alami, kemudian guru juga bisa memberikan contoh-contoh yang mudah agar siswa dapat mengerjakannya, apabila siswa tersebut sudah bisa mengerjakan soal yang mudah tersebut guru langsung meemberikan perkuatan positif seperti memberikan tepuk tangan dan selamat kepada anak tersebut agar siswa itu dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuannya.
9. Penghapusan
Apabila suatu respons terus menerus dibuat tanpa perkuatan , maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh jadi berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa pengehentian pemberian perkuatan harus serentak akan penuh. Misalnya, jika seseorang anak menunjukkan kebandelan di rumah atau di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa berikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan.
Terapis, guru dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai tehnik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tiak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau dikurangi. Contohnya, seorang anak yang telah belajar bahwa dia dengan mengomel biasanya memperoleh apa yang diinginkan, mungkin akan memperhebat omelannya ketika permintaannya tidak segera dipenuhi. Jadi kesabaran menghadapi periode peralihan amat diperlukan.
10. Percontohan
Dalam percontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura ( 1969) menyatakan bahwa segenap belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan menga,ati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi- konsekuensinya. Jadi kecakapan- kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh engan mengamati dan mencontoh tingkah laku model- model yang ada. Juga reaksi- reaksi emosional yang terganggu yng dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yang mendekati objek- objek atau situasi- situasi yang di takuti tanpa mengalami akibat- akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya . pengendalian diripun bisa dipelajarari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti, dan orang- orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model- model yang menepati status yang tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.
11. Token Economy
Token ekonomy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan. Contoh seperti pada lembar bukti prestasi. Siswa mendapatkan bukti dalam bentuk rewads atau hadiah dari pekerjaan yang dapat ditunjukannya. (Jason, 2009 ; 35).
Token Economy merupakakan sistem perlakuan pemberian penghargaan kepada siswa yang diwujudkan secara visual. Token Economy adalah usaha mengembangkan prilaku sesuai dengan tujuan yang diharapkan melalui penggunaan penghargaan. Setiap individu mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna. (Joson, 2009 ; 66).
Menurut Wallin (1991), Token Economy yang diberikan kepada siswa merupakan dukungan sekunder untuk memperkuat suasana belajar supaya lebih kondusif. Oleh karena itu, penghargaan harus menjadi rangsangan yang netral atau tidak berpihak. Siswa berkompetisi untuk memperolehnya dengan cara mengumpulkan token sebanyak-banyaknya dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa Token economy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan, dengan cara subyek mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna.
a. Tujuan Token Economy Bukti Token Economy dapat digunakan untuk
memenuhi berbagai tujuan pendidikan dalam membangun perilaku siswa. Penggunaan sistem time token ekonomi memiliki tujuan :
· Meningkatnya kepuasan dalam mendorong peningkatan kompetensi siswa
melalui penghargaan yang kongkrit atau visual sehingga tingkat kesenangan siswa melakukan sesuatu prestasi benar-benar tampak.
· Meningkatnya efektivitas waktu dalam pelaksanaan pembelajaran. Belajar yang
efektif adalah yang menggunakan waktu yang pendek dengan hasil yang terbaik dan terbanyak. Siswa harus menyadari berapa lama mereka telah belajar dan berapa banyak waktu yang telah mereka gunakan secara efektif untuk melaksanakan aktivitas belajar.
· Berkurangnya kebosanan – Suasana belajar yang kolaboratif, rivalitas,
kompetitif yang diberi penguatan oleh pendidik dapat meningkatkan menurunkan tingkat di kebosanan siswa sehingga siswa dapat berpartisipasi dalam jangka waktu yang yang lama.
· Meningkatnya daya respon – Suasana belajar yang kompetitif akan
meningkatkan kecepatan siswa meberikan respon. Setiap respon yang sesuai dengan tujuan akan segera mendapat penguatan sehingga suasana belajar menjadi cair, komunikatif dan lebih menyengkan.
· Berkembangnya penguatan yang lebih alami, – melalui pemberian penguatan
yang tepat waktu akan dan disesuaikan dengan tingkat prestasi setiap siswa atau setiap kelompok siswa memungkinkan
· Meningkatnya penguatan untuk sehingga motivasi belajar berkembang – setiap
siswa atau setiap kelompok siswa dalam kelas selalu dalam keadaan terpacu untuk mewujudkan dan daya pacu ini akan semakin berkembang jika siswa juga mendapat layanan untuk mengabadikan daya kompetisinya seperti dengan dukungan rekaman video.
b. Komponen Token Economy. Sebelum kegiatan belajar dilaksanakan pendidik
menyiapkan beberapa komponen yang dibutuhkan, di antaranya:
· Token atau simbol praktis dan atraktif untuk memicu tumbuhnya motivasi
belajar. Yang dapat digunakan sebagai simbol penghargaan seperti stiker, guntingan kertas, simbol bintang, atau uang mainan. Token sendiri tidak selalu dalam bentuk yang berharga, namun setelah siswa mengoleksinya setelah menunjukan prilaku yang diharapkan mereka dapat menukarkan token itu dengan sesuatu yang berharga. Dengan demikian setelah satu rentang waktu tertentu guru harus menyediakan barang penukar token yang berharga untuk siswa. Yang paling mudah seperti permen, alat tulis atau benda berharga lain yang dapat sekolah biayai.
· Definisi target prilaku jelas. Hal itu berarti guru maupun siswa perlu memahami
dengan baik prilaku yang diharapkan. Siswa memahami benar prilaku seperti apa yang harus ditunjukannya sebagai hasil belajar. Penjelasan harus singkat namun cukup sebagai dasar pemahaman siswa mengenai hadiah yang dapat diperlehnya setelah menunjukan prestasi.
· Dukungan penguatan (reinforcers) dengan barang yang berharga. Dukungan itu
dapat dalam bentuk barang berharga, hak istimewa, atau aktivitas individu yang dapat ditukar dengan makanan, perangkat permainan, waktu ekstra.
· Sistem penukaran token atau simbol. Sukses penyelenggaraan token ekonomi
sangat bergantung pada sukses dalam memberikan penguatan yang dapat ditukarkan dengan nilai yang sebanding dengan prestasi yang dicapai.
· Sistem dokumentasi atau perekaman data. Pemberian penghargaan yangtepat
sangat bergantung pada ketepatan menghimpun data. Oleh karena itu alat perekam dapat membantu meningkatkan proses ini sehingga informasi dari proses pembelajaran dapat dikelola dengan tingkat akurasi yang tinggi.
· Konsistensi dalam implementasi, untuk menjunjung konsistensi itu sebaiknya
terdapat panduan teknis yang tertulis sebagai pegangan pelaksanaan tugas sehingga apa yang direncanakan itulah yang dilaksanakan.
c. Langkah-langakah pelaksanaan Token Economy
Mengacu pada pemikiran Robinson T.J. Newby dan S.L. Ganzell, (1981) merumusakan bahwa langkah utama dalam pelaksanaan sistem token ekonomi dapat dikembangkan sebagai berikut :
· Menentukan target prilaku atau kompetensi yang dapat siswa tunjukan. Guru
memilih masalah penting sebagai target. Definisikan dengan jelas, harus dalam bentuk penyataan positif, dan harus dalam prilaku hasil belajar yang dikembangkan dalam bimbingan pembelajaran dalam kelas.
· Menentukan motode bagaimana langkah-langkah untuk memperoleh
penghargaan dan nilai dari setiap penghargaan. Barkley (1990) memberi contoh untuk anak-anak umur 4-7 thaun menggunakan guntingan kartu berbentuk bintang, model perangko atau stiker. Setiap perangkat penghargaan diletakan siswa di atas meja belajarnya dalam kelas.
· Identifikasi nilai atraktif penghargaan. Mengembangkan penghargaan sebagai
sesuatu yang berarti, praktis dan atraktif sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal penting yang dapat meningkatkan makna adalah keterlibatan siswa dalam proses memilih dan menyusun jenis dan nilai penghargaan. Dalam hal ini siswa dapat memperoleh kebebasan menentukan waktu
· Menentukan Tujuan, jumlah token yang dapat diperoleh serta nilai yang
diperoleh untuk setiap penghargaan yang diperoleh.
Implementasi kegiatan ini memerlukan langkah lanjut :
· Penjelasan Program Kepada Siswa. Penjelasan mengenai program harus jelas.
Siswa harus memahami aturan main sebelum belajar dimualai agar mereka dapat memanfaatkan waktu belajar secara optimal. Sejumlah penghargaan kepada siswa diberikan di antaranya karena ketepatan dan kecepatan menunjukan prilaku positif yang diharapkan.
· Guru memberikan masukan. Guru harus menentukan kapan hadiah akan
didistribusikan, dengan ketentuan seperti apa, dan bagaimana siswa dapat memperoleh penghargaan, tata tertib seperti bagaimana? Pemberian penghargaan dapat guru lakukan tidak hanya sebatas dalam kurun waktu satu dua jam pelajaran, namun dapat pula menggunakan waktu berharihari, berminggu-minggu atau dalam satu semester sepanjang guru dapat memelihara kondisi tingkat revalitas, persaingan dan daya kolaborasi dapat terus dikobarkan sehingga berdampak positif terhadap hasil belajar siswa.
· Guru pengatur penghargaan. Guru memberikan penghargaan dengan
memperhatikan tercapainya tujuan pembelajaran. Kejuaraan diperoleh dari pengumpul hadiah terbanyak. Hal itu berarti menjadi siswa yang berlajar paling efektif sehingga mencapai prilaku yang diharapkan. Jika siswa berhasil dalam satu hari dan ia tidak mendapatkan di waktu lain adalah sesuatu yang baiasa.
2.8 Kontribusi Pendekatan Konseling
1. Kontribusi
Kontribusi dari teori konseling behavioral adalah :
· Dengan memfokuskan pada perilaku khusus bahwa klien dapat berubah,
konselor dapat membantu klien kea rah pengertian yang lebih baik terhadap apa yang harus dilakukan sebagai bagian dari proses konseling.
· Dengan menitikberatkan pada tingkah laku khusus, memudahkan dalam
menentukan kriteria keberhasilan proses konseling.
· Memberikan peluang pada konselor untuk dapat menggunakan berbagai teknik
khusus guna menghasilkan perubahan perilaku.
2.9 Keterbatasaan dan Kritik Terhadap Konseling Behavioristik.
a. Keterbatasan Teori Konseling Behavioral adalah :
· Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan
penemuan diri atau aktualisasi diri.
· Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam
interaksinya dengan konselor.
· Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki
permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
· Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan
hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.
b. Kritik untuk Teori Konseling Behavioral adalah :
· Terapi tingkah laku tidak menangani penyebab-penyebab, tetapi lebih
manangani ke gejala-gejala
· Terapi tingkah laku tidak diterapkan pada orang yang taraf berfungsinya relatif
tinggi
· Terapi tingkah laku bisa diterapkan hanya pada kecemasan-kecemasan yang
spesifik, fobia-fobia dan masalah-masalah yang terbatas
· Modifikasi tingkah laku tidak berfungsi
· Modifikasi tingkah laku bekerja “terlalu baik”
· Terapi tingkah laku bisa mengubah tingkah laku, tetapi tidak mengubah
perasaan-perasaan
· Terapi tingkah laku mengabaikan pentingnya hubungan terapis klien dalam
terapis
· Terapi tingkah laku tidak memberikan insight. Karena seringnya, terapi perilaku
tidak
· fokus pada masa lalu klien sehingga seringnya terapis tidak membahasnya
meskipun sebenarnya terapis mengetahui masalah tersebut.
· Terapi tingkah laku mengabaikan penyebab-penyebab historis dari tingkah laku
sekarang
2.10 Contoh Kasus
Jono baru saja beranjak dari SMP menuju SMA. Ia masuk ke SMA yang terkenal sebagai SMA yang dihuni oleh orang-orang kelas atas. Padahal ia berasal dari keluarga yang tergolong menengah kebawah. Awalnya orang tua Jono tidak memperbolehkan Jono masuk kesekolah tersebut karena takut Jono terpengaruh gaya hidup mereka. Namun paksaan Jono yang yang sedemikian rupa membuat orang tuanya luluh juga.
Setelah beberapa lama berada disekolah itu, Jono seperti mengalami diskriminasi karena ia tidak pernah mau untuk ikut bermain dengan teman-temannya saat ia diajak. Sedikit demi sedikit, Ia mulai merasa dikucilkan. Awalnya, ia tidak terpengaruh. Namun lama kelamaan, ia mulai merasa kesepian. Bahkan, teman-temannya senang sekali mengerjai Jono. Perilaku teman-temannya mulai membuat Jono tidak fokus. Prestasi belajar mulai menurun. Ini membuat Jono selalu stress.
Keadaan seperti ini mulai mengubah Jono. Jono yang selama ini selalu rendah hati mulai merasa harus seperti teman-temannya. Akhirnya muncul juga keinginan untuk bermain dengan teman-teman. Ia mencuri uang orang tuanya untuk bisa berpenampilan seperti teman-temannya. Keadaan hidup seperti ini membuat ia tak nyaman. Ia ingin sekali tidak seperti ini, namun itu hanya tinggal keinginan saja. Ketakutan akan dikucilkan membuat ia tetap menjalankan kebiasaan buruk ini.






0 komentar:
Posting Komentar