artikel ini sebaiknya dibaca dan diteliti lagi sekiranya ada kesalahan.
"sebaik-baiknya karya orang lain, tidak lebih bermakna dari karya anda sendiri".
"sebaik-baiknya karya orang lain, tidak lebih bermakna dari karya anda sendiri".
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
AT dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Pendekatan analisis transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. Pada dasarnya teori analisis transaksional berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir, dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan- perasaannya.
Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric Berne menggunakan berbagai bentuk permainan antara orang tua, orang dewasa dan anak. Dalam eksprerimen yang dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan bagaimana status ego anak, orang dewasa dan orang tua, dalam interaksi satu sama lain, serta bagaimana gejala hubungan interpersonal ini muncul dalam berbagai bidang kehidupan seperti misalnya dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan sebagainya.
Dari eksperimen ini Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi dan hubungan traksaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan psikologis. Percobaan Eric Berne ini dilakukan hamper 15 tahun dan akhirnya dia merumuskan hasil percobaannya itu dalam suatu teori yang disebut Analisis Transaksional dalam Psikoterapi yang diterbitkan pada tahun 1961. Selanjutnya tahun 1964 dia menulis pula tentang Games Pupil Play, dan tahun 1966 menerbitkan Principles of Group Treatment. Pengikut Eric Berne adalah Thomas Harris, Mc Neel J. dan R. Grinkers.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan hasil diskusi, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Jelaskan pandangan AT terhadap hakikat manusia !
2. Jelaskan status ego pada AT !
3. Jelaskan analisis struktural status ego !
4. Jelaskan energi psikis dan cathexis !
5. Jelaskan time structuring !
6. Jelaskan tipe – tipe transaksi !
7. Jelaskan pendekatan – pendekatan AT !
8. Jelaskan tujuan konseling AT !
9. Jelaskan fungsi dan peran konselor !
10. Jelaskan hubungan konselor dengan konseli !
11. Jelaskan teknik-teknik dan prosedur konseling !
12. Jelaskan kontribusi pendekatan konseling AT !
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh nilai semester ketiga,
2. Untuk menambah pengetahuan tentang Analisis Transaksional.
1.4 Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini, adalah sebagai berikut:
Metode kepustakaan melalui buku catatan panduan yaitu metode penelitian dengan mengumpulkan data yang berasal dari beberapa buku yang dianggap relevan dan data ini diambil dari media elektronik yaitu, internet yang dianggap sumber yang relevan..
1.5 Sistematika Penulisan
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN, meliputi:
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Metode Penulisan
1.5 Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN, meliputi:
2.1 Pandangan AT terhadap hakikat manusia
2.2 Status ego
2.3 Analisis struktural status ego
2.4 Energi psikhis dan cathexis
2.5 Time structuring
2.6 Tipe – tipe transaksi
2.7 Pendekatan – pendekatan AT
2.8 Tujuan konseling AT
2.9 Fungsi dan peran konselor AT
2.10 Hubungan konselor dengan konseli
2.11 Teknik-teknik dan prosedur konseling
2.12 Kontribusi pendekatan konseling AT
BAB III PENUTUP, yang mencakup:
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN POWER POINT
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pandangan AT Terhadap Hakikat Manusia
Haris (dalam Corey, 2009) sepakat bahwa manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak terbelenggu oleh masa lampaunya. Terapis mengakui bahwa alasan mengapa seseorang berada dalam terapi adalah karena dia ingin memasuki persengkongkolan dan memainkan permainan dengan orang lain. Bagaimanapun, terapis tidak mendukung pengembangan hubungan persengkongkolan dalam terapi.
Analisis Transaksional berakar pada suatu filsafat yang antideterministik serta menekankan bahwa manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemrograman awal. Di samping itu, berpijak pada asumsi-asumsi bahwa orang-orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan bahwa orang-orang mampu memilih untuk memutuskan ulang. Analisis Transaksional meletakkan kepercayaan pada kesanggupan individu untuk tampil di luar pola-pola kebiasaan dan meyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru. Hal ini tidak meyiratkan orang-orang terbebas dari pengaruh kekuatan-kekuatan sosial, juga tidak berarti bahwa orang-orang sampai pada putusan-putusan hidupnya yang penting itu sepenuhnya oleh diri sendiri tetapi berarti bahwa, bagaimanapun orang-orang dipengaruhi oleh pengharapan-pengharapan dan tuntutan-tuntutan dari orang-orang lain yang berarti, dan putusan-putusan dininya pun dibuat ketika hidup mereka sangat bergantung pada orang lain, tetapi putusan-putusan itu bisa ditinjau dan ditantang serta, jika putusan-putusan dini tidak baik lagi, bisa dibuat putusan-putusan baru.
Pandangan analisis transaksional tentang hakekat manusia ialah pada dasarnya manusia mempunyai keinginan atau dorongan – dorongan untuk memperoleh sentuhan atau “stroke”. Sentuhan ini ada yang bersifat jasmaniah dan rohaniah serta yang berbentuk verbal dan fisik. Yang menjadi keperibadian seseorang ialah bagaimana individu memperoleh sentuhan melalaui transaksi. Penampilan kepribadian seseorang terbentuk dari naskah hidup seseorang yang telah terbentuk sejak usia muda.
Manusia dianggap memiliki pilihan dan tidak tergantung pada masa lalu. Walaupin pengalaman masa lalu yang menentukan posisi hidup tidak bisa dihapus, individun dapat mengubah posisinya. Seperti yang dikemukakan Berne (1970):
“Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu hal yang pertama dipelajarinya adalah berbuat sebagaimana diperintahkan, dan dia menghabiskan sisa hidupnya dengan berbuat seperti itu. Jadi, penghambaan diri yang pertama dijalani adalah penghambaan pada orangtua. Dia menuruti perintah-perintah orangtua untuk selamanya, hanya dalam beberapa keadaan saja mempunyai hak untuk memilih cara-caranya sendiri, dan menghibur diri dengan suatu ilusi tentang otonomi” (Corey, 2010:159).
Manusia menurut AT selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya. Persoalan: Kenapa manusia berubah? Menurut Thomas A. Harris, MD ada tiga perkara. Pertama, bahwa manusia (klien) adalah orang yang “telah cukup lama menderita”, karena itu mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan.
Faktor kedua, adanya kebosanan, kejenuhan atau putus asa. Manusia tidak tidak puas dengan kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan berkecukupan. Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu individu terdorong dan berupaya untuk melakukan perubahan.
Faktor ketiga, manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Ini merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang yang pada mulanya tak-mau atau tak-tahu dengan perubahan, tapi dengan adanya informasi, cerita, atau pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, timbullah semangatnya untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.
AT punya pandangan yang optimis atas manusia. Manusia dapat berubah asal dia mau. Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now). Berbeda dengan Psikoanalisis, yang cenderung deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang di mengerti dari masa lalunya. Bagi AT, manusia sekarang punya kehendak, karena itu perilaku manusia sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini. Kendatipun ada hubungannya dengan masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari ini ditentukan oleh pengalaman masa lalunya.
Harris berkata, bahwa kita harus menjawab masalah ini bukan dengan menolak hubungan sebab akibat antara alam tak sadar dengan perilaku manusia, melainkan dengan mencari sebab itu. Sebab sesuatu perbuatan, justru berada pada masa sekarang bukan di masa lalu seseorang.
2.2 Status Ego
Sumber-sumber dari tingkah laku bagaimana seseorang melihat dari suatu realitas dan bagaimana mereka mengolah berbagai informasi serta bereaksi dengan dunia pada umumnya. Inilah yang kemudian oleh Eric Berne disebut sebagai Ego States (status ego). Istilah status ego dipergunakan untuk menyatakan suatu system perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dari tingkah lakunya. Menurut Eric Berne bahwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
a. Orang Tua (Parent)
Bila seseorang merasa dan bertingkah laku seperti orang tua atau tokoh-tokoh
terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status ego orang tua. Setatus ego orang tua atau ekstropsikis adalah seperangkat perasaan, pikiran, sikap, dan prilaku yang mirip dengan figure orang tua. Setatus ego orang tua ini dapat dilihat dengan nyata sebagaimana yang pernah dilihat oleh orang tua masing-masing, misalnya membimbing, membntu, mengarahkan, menyayangi, menasehati, mengecam, mengomando, mendikte, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat secara verbal melalui kata-kata, misalnya harus, awas, jangan, lebih baik, lebih tepat, cepat, dan sebagainya. Melalui non verbal juga dapat dilihat unsur ini diantaranya merangkul, mencium, membelai, menuding, mencibir, melotot, dan lain-lain.
Parent yang controlling (mengontrol) atau prejudicial (berprasangka) dimanifestasikan sebagai seperangkat aturan yang tampak sewenang-wenang, biasanya prohibitif yang mungkin sejalan atau bertentangan dengan aturan-aturan budaya seseorang. Parent yang nurturing (pengasuhan) dimanifestasikan sebagai simpati dan perhatian terhadap individu lain atau diri. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa status ego orang tua dapat berbentuk langsung ialah menggunakan prototype, model, tipe, dari tokoh-tokoh orang tua baik melalui verbal maupun non verbal dan adanya suatu perubahan serta koreksi tertentu.
Sedangkan bentuk yang tidak langsung ialah merupakan suatu petunjuk-petunjuk, peraturan-peraturan maupun norma-norma dan nilai yang didengarnya dari orang tua atau tokoh-tokoh tertentu yang pernah dialaminya pada masa kecil. Fungsi parent adalah untuk menghemat energy dan mengurangi kecemasan dengan membuat keputusan-keputusan tertentu secara otomatis.
Menurut Schlegel (dalam Eschenmoser, 2008: 14), status ego orang tua dibagi menjadi:
· Orang Tua Pengkritik (Kritisches Eltern)
Ego state orang tua pengkritik secara keseluruhan adalah ekspresi pikiran dan perasaan seseorang dari sifat menghakimi. Orang yang memiliki ego state orang tua pengkritik cenderung menyampaikan pesan larangan dan penilaian ketika ia melakukan sebuah komunikasi (Eschenmoser, 2008: 16). Ungkapan-ungkapan dari ego state orang tua pengkritik lebih bersifat pengungkapan pendapat atau opini mengenai sesuatu yang hanya mengkritik atau menilai sesuatu tanpa menerima alasan atau pembelaan dari lawan bicaranya, dia bahkan tidak mau untuk memberikan solusi pemecahan masalahnya, contoh: “Kamu bodoh, menyetrika baju saja kamu tidak bisa.”
· Orang Tua Pembimbing (Fürsorgliches Eltern)
Berbeda dengan ego state orang tua pengkritik, ego state orang tua pembimbing cenderung berisi ungkapan pengertian dan kasih sayang. Sifat utamanya adalah layaknya orang tua yang baik, di antaranya adalah mengajarkan, mendukung, memberi bimbingan dan bahkan menentukan peraturan pada orang lain (Eschenmoser, 2008: 16). Ekspresi wajah yang ditampilkan oleh orang yang memiliki ego state orang tua pembimbing adalah wajah yang tenang dan suara yang lembut. Contoh dari ungkapan ego state ini adalah: “Saya akan mengajari Anda cara membuat laporan dengan benar, setelah itu silahkan Anda mencoba untuk buat sendiri laporannya. Saya yakin Anda pasti bisa.”
Jadi, Parent dapat terlalu mengontrol dan menghambat atau sportif dan meningkatkan pertumbuhan. Ego state Parent juga dapat mempengaruhi ego state Adult dan Child seseorang. Fungsi Parent adalah untuk menghemat energi dan mengurangi kecemasan dengan membuat keputusan-keputusan tertentu secara otomatis.
b. Dewasa (Adult)
Dalam status ego adult atau neopsikis, orang menilai kenyataan dan membuat penilaian secara mandiri dan objektif. Merupakan tindakan seseorang yang didasarkan atas dasar pikiran yang rasional, logis, objektif dan bertanggung jawab. Dewasa berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi memasukan berbagai macam data kedalam bank data, dan kemudian mempertimbangkan berbagai bentuk kemngkinan yang ada. maka dari itu dalam rangka menjalankan fungsinya dewasa memeriksa data yang ada pada orang tua untuk diuji apakah data yang ada pada orang tua itu masih valid dan masih berlaku untuk masa kini.
Dari pengujian ini data data orang tua dapat diterima atau tidak (ditolak). Disamping data orang tua, data anak juga diteliti apakah perasaan-perasaan serta respon-responnya sesuai dengan masa kini. Penolakan terhadap data orang tua dan perasaan-perasaan serta respon-respon anak yang tidak valid itu menyebabkan data, perasaan-perasaan, dan respon-respon tidak terhapus dari rekaman dan masih tetap ada. Sedangkan apabil dianggap kurang valid maka rekaman-rekaman itu diberikan saja tanpa diputar.
Status Ego Dewasa (Adult) adalah reaksi yang bersifat realistis dan logis. Status ego ini sering disebut komplek karena bertindak dan mengambil keputusan berdasarkan hasil pemrosesan informasi dari data dan fakta lapangan. Ini juga merupakan prosesor data. Dan merupakan bagian dari tujuan orang, yang mengumpulkan informasi tentang apa yang sedang terjadi. Ini bukan emosional atau menghakimi, tetapi bekerja dengan fakta dan dengan realitas eksternal. Karena itu, Berne menyebut status ego ini dengan Neopsyche. Kata-kata yang sering dipergunakan adalah benar, salah, praktis, dan sebagainya. Status ego dewasa ini tanpa gairah keyakinan, tetapi banyak masalah juga memerlukan empati dan intuisi untuk diselesaikan.
Menurut Schlegel (dalam Eschenmoser, 2008: 14), Ego state Dewasa (Erwachsenen), merupakan kepribadian yang ideal. Ego state dewasa tidak menggunakan emosi seperti ego state anak atau menggunakan opini seperti ego state orang tua, melainkan menggunakan data dan fakta sebagai bahan untuk membangun pemikirannya yang selalu rasional (lihat Eschenmoser, 2008: 17). Ego state dewasa selalu menggunakan komunikasi dua arah, diplomatis, hati-hati, dan jelas. Ego state dewasa selalu berbicara dengan tenang dan nada suara yang datar. Contoh dari ungkapan seseorang yang memiliki ego state ini adalah: “Saya sudah membaca semua bahan mata kuliah yang Ibu berikan kemarin. Saya akan memberikan laporannya lusa karena besok adalah hari raya.”
c. Anak (Child)
Status ego anak adalah sutu tindakan dari seseorang yang didasarkan paa reaksi emosial spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif. Bentuk status ego anak dapat berbentuk wajar apabila terlihat bahwa tingkah lakunya pada masa kanak-kanak yaitu : adana ketergantungan pada orang lain, spontan, bebas, tidak mau kompromi impulsif serta agresif. Ada pula bentuk status ego anak yang seang berkembang akan terlihat pada pola tingkah lakunya yang kreatif, penuh perasaan ingin tahu, fantasi, ada motif meraba, merasakan serta berbagi bentuk penemuan-penemuan baru, sedangkan bentuk status ego yang lain ialah adanya pengaruh tertentu dari orang tuanya. Dengan adanya pengaruh yang begitu melekat pada anak, maka menyebabkan anak akan bertindak, bertingkah laku serta berbuat sesuai dengan harapan, keinginan, serta cita-cita orang tua.
Disini akan tampak pola anak yang patuh, taat, sopan santun, dan selalu menurut;
atau dapat pula menyebabkan anak mengalami penderitaan sebagai akibat dari tindakan orang tua, misalnya : over kompensasi, over protection, mania, konflik, frustasi, stress, dan sebagainya. Jadi status ego anak merupakan kejadian internal pada masa kanak-kanaknya.
Menurut Schlegel (dalam Eschenmoser, 2008: 14), status ego anak dibagi menjadi:
· Anak Alamiah (Natürliches Kind)
Sifat alamiah seorang anak menjadi dasar dari sifat ego state anak alamiah, seperti menggunakan perasaan atau emosi dalam berkomunikasi, spontan, dan berorientasi pada dirinya sendiri. Pemilik ego state anak alamiah ini hanya mengungkapkan apa yang ia inginkan dan apa yang ia rasakan (Eschenmoser, 2008: 15), contoh: “Saya senang kamu datang membantu saya. Bisa tolong ajarkan saya sekarang?”
· Anak Penurut (Angepasstes Kind)
Ego state ini muncul sebagai penyesuaian diri atau respon dari ego state orang tua atau ego state dewasa yang diperankan oleh lawan bicaranya. Tanggapan atau respon dari orang yang memiliki ego state anak penurut adalah sikap selalu menerima apa yang diperintahkan atau disarankan oleh lawan bicaranya dengan ekspresi pasrah dan keluhan bahkan dengan perasaan sedikit tidak suka. (lihat Eschenmoser, 2008: 15). Ego state anak penurut ini tidak akan memberi tanggapan lain selain keluhan dan pernyataan untuk menuruti perintah lawan bicaranya, contoh: “Baiklah saya akan mencobanya walaupun saya tidak yakin.”
· Anak Pemberontak (Rebellisches Kind)
Sama halnya seperti pada kasus ego state anak penurut, ego state ini muncul sebagai penyesuaian dirinya atau respon dari ego state orang tua atau ego state dewasa, akan tetapi respon yang diberikan jauh berbeda dari respon yang diberikan oleh ego state anak penurut. Ego state anak pemberontak biasanya memberikan respon dengan bentuk penolakan, emosi, dan ekspresi tidak suka (lihat Eschenmoser, 2008: 15). Contoh ungkapan dari ego state anak pemberontak adalah: “Enak saja menyuruh orang! saya tidak mau melakukannya!”
Ketiga status ego dari Berne ini mempunyai perbedaaan nyata dengan konsep Freud mengenai Id, Ego dan Super Ego. Keunggulan konsep Berne mengenai status ego ini, karena ketiga macam status ini dapat diamati secara nyata, ketimbang konsep Freud yang abstrak. Menurut Berne, ketiga macam statu ego ini, P, A, C, dapat dilihat secara terpisah pada setiap orang. Artinya, dalam keadaan atau waktu yang berbeda orang dapat menampilkan status ego yang berbeda pula. Orang normal (sehat) adalah orang yang dapat melahirkan status ego yang sesuai dengan keadaan lingkungannya. Berne melukiskan adanya tiga macam bentuk ego yang berada dalam diri seseorang, yaitu Normal, Kontaminasi (Campuran), dan Eksklusi. Normal adalah bersifat terpisah. Kontaminasi adalah dua atau lebih status ego tercampur seperti tercampurnya status ego P dengan C. Sedangkan, eksklusi yaitu salah satu ego yang menguasai seseorang dalam waktu yang lama sehingga menyingkirkan dua ego lainnya.
2.3 Analisis Struktural Status Ego
Analisis struktural terdiri atas mendiagnosis dan memisahkan pada perasaan-pikiran-dari-perilaku atau ego state seseorang dengan orang lain. Analisis lebih jauh tentang ego state tidak menghasilkan ego state baru, tetapi subdivisi-subdivisi dari yang sudah ada. Analisis semacam ini disebut analisis structural urutan kedua dan bisa menjadi sangat terperinci. Secara khusus, ini memfokuskan pada analisis lebih jauh tentang Parent dan Child.
Child memasukkan beberapa karakteristik masing-masing orang tua ke dalam ego state Parent-nya, termasuk bagaimana orang tuanya menunjukkan pemikiran dan perasaan mereka saat mengekspresikan nilai-nilai. Konsekuensinya analisis struktural urutan kedua memasukkan ego state Parent, Adult, dan Child kedua orang tuanya.
Dalam ego state Child, ego state Parent, Adult, dan Child, yang sudah ada ketika anak membuat keputusan dasar tentang skrip kehidupannya, dapat dilihat. Berne (1972) kadang-kadang menyebut Parent-in-the-Child “elektroda”, dan Steiner (1974) mendeskripsikannya sebagai “Pig Parent”. Berne menyebut Parent-in-the-Child elektroda karena saai ia “menekan tombol”, orang secara otomatis melakukan sesuatu yang negaitf. Contoh perilaku negative itu termasuk konsumsi alkohol yang berlebihan, gila judi, dan nafsu seksualnya padam jika ada sesuatu yang sangat kuat terjadi.
Berne melihat Adult-in-the-Child sebagai seorang pengkaji sifat manusia yang bersemangat dan berperspektif, yang disebutnya Professor (Berne, 1961). Steiner (1974) menyebut Adult-in-the-Child sebagai Little Professor dan melihat bahwa inilah ego state yang oleh Berne digunakan dalam kajian-kajiannya tentang intuisi, ketika ia menebak pekerjaan orang dengan menggunakan intuisinya. Adult-in-the-Child adalah sumber pemikiran intuitif dan kreatif dan juga sumber delusi, karena mungkin tidak selalu benar. Ego state Child-in-the-Child adalah sumber keinginan-keinginan dan perasaan-perasaan bawaan. Spontanitas adalah salah satu karakteristik sentral Child-in-the-Child, tetapi kadang-kadang spontanitas ini bisa self-destructive (merusak diri).
2.4 Energi Psikhis Dan Cathexis
Analisis transaksional adalah teori kepribadian yang dinamis dalam arti bahwa ia menggunakan konsep energi psikis dan kateksis atau distribusi energi. Cathexis berarti pemusatan energi psikis terhadap sesuatu objek tertentu. Pada saat tertentu, ego state yang paling kuat terkateksi akan memiliki kekuatan eksekutif. Berne menulis tentang aliran kateksis yang menyebabkan berbagai perubahan dalam ego state. Ia menganggap bahwa cara paling nyaman untuk mengakui adanya diferensiasi ego state adalah dengan melihat setiap keadaan memiliki batas yang memisahkannya dari ego state lainnya. Di sebagian besar kondisi, batas-batas ego state bersifat semipermeabel. Perubahan-perubahan dalam ego state bergantung pada tiga faktor:
· Kekuatan yang bekerja pada masing-masing keadaan;
· Permeabilitas batas-batas di antara ego state; dan
· Kepasitas ketektik masing-masing ego state.
Berne (1961) melihat bahwa keseimbangan kuantitatif di antara ketiga faktor inilah yang menentukan kondisi klinis klien dan dengan demikian mengidikasikan prosedur terapinya.
2.5 Time Structuring
Berne melihat bahwa jika dua orang atau lebih ada dalam sebuah ruangan bersama-sama, mereka memiliki enam macam kemungkinan perilaku sosial atau penataan waktu untuk dipilih:
a. Withdrawal (menarik diri): Di sini dua orang tidak berkomunikasi secara
terbuka satu sama lain, misalnya mereka sedang ada dalam bus, atau para withdrawn schizophrenics. Dalam withdrawal, oaring-orang tetap bungkus rapat dalam pikirannya.
b. Rituals (ritual): Ritual adalah rekognisi mutual yang stylized signs yang
ditentukan oleh tradisi dan adat istiadat sosial. Di tingkat paling sederhana, dua orang yang saling mengucapkan “Selamat Pagi” terlibat dalam sebuah ritual.
c. Activities (aktivitas/kegiatan): Aktivitas-lebih lazim disebut pekerjaan-tidak
hanya berkaitan dengan menangani sarana material yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Aktivitas juga memiliki signifikansi sosial dalam arti bahwa mereka menawarkan sebuah kerangkakerja untuk berbagai macam pengakuan dan kepuasan. Berne menganggap bahwa transaksi kerja biasanya antara Adult-dengan-Adult, yang terutama diarahkan pada realitas eksternal.
d. Pastimes: Postimes adalah percakapan topical yang bersifat semi-ritualistis
yang berlangsung lebih lama daripada ritual, tetapi masih tetap diprogramkan secara sosial. Mereka bisa termasuk tipe percakapan “Ain’t Awful” (orang secara terbuka mengekspresikan distress, tetapi diam-diam merasa senang akan prospek kepuasan akan dapat mereka dapatkan dari kemalangannya) dan “Motor Cars” (pembicaraan tentang mobil yang lazim dilakukan orang untuk sekadar omong-omong (interpretasi pribadi)). Fokus pastimes cenderung bersifat eksternal bagi partisipan-partisipannya dan bukan secara langsung mengacu pada diri.
e. Games (permainan): Permainan, berlawanan dengan pastimes, adalah sekuensi
transaksi yang lebih didasarkan pada pemograman individual daripada pemrograman sosial. Permainan psikologis adalah seperangkat transaksi tersembunyi maupun transaksi terang-terbuka yang hasil atau imbalannya dapat diprediksi. Sering kali hasilnya melibatkan perasaan negative seperti kemarahan dan depresi. Mengumpulkan perasaan negative dikenal dengan istilah mengoleksi “trading stamps” (cap dagang) yang suatu hari nanti mungkin dapat ditukar dalam bentuk tunai sebagai perilaku, misalnya bepergian atau membeli baju baru. lebih dratisnya, trading stamps dapat ditukar dalam bentuk tunai sebagai perceraian atau usaha bunuh diri. Setiap permainan mempunyai motto yang membuat permainan itu dapat dikenali, misalnya “Why don’t you? Yes but” dan “If it weren’t for you” (Berne, 1964).
f. Intimacy (Intimasi/keintiman): Berne mendefinisikan intimasi bilateral sebagai
“hubungan terus-terang, bebas permainan, dengan saling memberi dan menerima dengan bebas dan tanpa eksploitasi” (1972: 25). Intimasi merepresentasikan pemrograman individual dan instingtual yang pemrograman sosial dan motivasi tersembunyinya sebagian besar, atau bahkan secara total, dikekang. Intimasi adalah solusi paling memuaskan bagi stimulus kelaparan, rekognisi kelaparan, maupun struktural kelaparan, namun sayangnya tidak terlalu biasa bagi orang untuk hidup sebagai “pangeran” atau “putri raja”. Ide Berne tentang intimasi termasuk, namun tidak terbatas pada, intimasi seksual.
2.6 Tipe – Tipe Transaksi
Transaksi merupakan inti dari konsep AT. Istilah transaksi sebenarnya adalah istilah yang sering dipergunakan dalam lapangan komunikasi. Sesuai dengan teori ini, transaksi diatikan sebagai hubungan stimulus respons atau dua ego state. Transaksi akan terjadi bila seseorang (A) memberikan rangsangan (stimulus) kepada orang lain (B), B memberi respons dan pada gilirannya respons B itu menjadi stimulus bagi A dan begitu seterusnya.
Menurut Berne, transaksi itu terjalin antar ego state. Kalau dua orang berada pada suatu ruangan, berarti pertemuannya 6 ego state. Dari sudut ego state ini, Berne mengemukakan adanya 3 macam, yaitu transaksi yang bersifat Complementary (Komplementer), Crossed (Silang), dan Ulterior (Tersamar atau semu).
a. Transaksi Komplementer (Complementary Transactions) adalah transaksi yang
arah transaksi stimulus-responsnya konsisten. Dengan kata lain, Transaksi Komplementer adalah transaksi antar dua ego state yang sama, seperti P dengan P, A dengan A, atau C dengan C. Contoh transaksi P-P lihatlah orang yang tengah bertengkaratau mendiskusikan kesulitan dunia. Contoh A-A seperti seminar atau berbicara tentang pekerjaan. Contoh C-C orang lagi pacaran atau bersenang-senang bersama. Ada Sembilan kemungkinan tipe transaksi komplementer (PP,PA,PC,AP,AA,AC,CP,CA,CC). Aturan pertama komunikasi Berne adalah bahwa komunikasi akan berjalan mulus selama transaksinya komplementer.
b. Transaksi Silang (Crossed Transaction) merupakan transaksi antar dua ego
state yang berbeda. Respons transaksionalnya (a) datang dari ego state yang berbeda dengan ego state yang dituju, dan/atau (b) mengarah ke ego state yang tidak mengirimkan stimulus awalnya. Ada 72 kemungkinan tipe transaksi menyilang, namun hanya beberapa yang sering terjadi, misalnya P–A (ujian skripsi), P–C (guru di kelas), dan A–C (dokter-pasien).
c. Transaksi Tersamar atau semu (Ulterior) adalah transaksi antar dua ego
namun diikuti terjadinya transaksi dua ego lain yang tidak kelihatan atau tertutup, namun dirasakan oleh orang yang melakukannya. Cara lain untuk melihat ini adalah di banyak interaksi manusia, ada agenda sosial psikologis maupun sosial yang mendasari. Transaksi yang tak kelihatan itu mengandung kesan psikologis. Transaksi ini dapat terjadi dalam situasi sehari-hari seperti ketika seorang wiraniaga mengatakan kepada seseorang nasabah: “Mungkin Anda semestinya tidak membeli mantel yang indah dan mahal itu”, sementara pesan psikologinya adalah “Ayolah, aku ingin kau membelinya”.
Dari ketiga macam transaksi tersebut diatas, maka transaksi yang baik adalah transaksi antara ego state Dewasa (Adult) dengan Dewasa (Adult), karena lebih bersifat realitis dan logis.
2.7 Pendekatan – Pendekatan AT
a. Kebutuhan Strokes
Manusia harus dirangsang secara fisik, sosial, dan intelektual. Ketika kita tumbuh dan berkembang, kita perlu diakui untuk siapa kita dan apa yang kita lakukan. Hal ini perlu untuk rangsangan dan pengakuan ini disebut sebagai “stroke”; stroke adalah setiap tindakan pengakuan atau sumber rangsangan. Sebuah premis dasar dari pendekatan TA adalah bahwa manusia harus menerima baik secara fisik dan psikologis “stroke” untuk mengembangkan rasa percaya di dunia dan dasar untuk mencintai diri mereka sendiri. Ada banyak bukti bahwa kurangnya kontak fisik dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi dan, dalam kasus ekstrim, dapat menyebabkan kematian. Psikologis stroke verbal dan nonverbal tanda-tanda penerimaan dan pengakuan juga diperlukan untuk orang-orang sebagai konfirmasi dari nilai mereka.
Strokes dapat diklasifikasikan sebagai verbal atau nonverbal, tanpa syarat
(menjadi) atau bersyarat (melakukan), dan positif atau negatif. Stroke bersyarat
berkata “Aku akan menyukai Anda jika dan ketika Anda cara tertentu”; mereka diterima untuk melakukan sesuatu. Stroke tanpa syarat berkata “Saya bersedia menerima Anda karena siapa Anda dan untuk menjadi siapa diri Anda, dan kami dapat menegosiasikan perbedaan-perbedaan kita.” Stroke positif berkata “Aku suka kamu,” dan mereka dapat dinyatakan dengan hangat sentuhan fisik, kata-kata menerima, penghargaan, senyum, dan ramah gerakan. Stroke ini diperlukan untuk perkembangan psikologis orang yang sehat. Stroke negatif berkata “Aku tidak suka kamu,” dan mereka juga dapat dinyatakan baik secara verbal dan nonverbal. Menariknya, stroke negatif dianggap lebih baik daripada tidak ada stroke pada segala yang ada, untuk diabaikan.
Teori TA memperhatikan bagaimana orang-orang struktur waktu mereka untuk mendapatkan stroke. Ini juga terlihat pada rencana hidup individu untuk menentukan jenis stroke mereka berdua mendapatkan dan memberikan. Menurut TA, itu behooves kita untuk menjadi sadar akan stroke kita bertahan hidup, the strokes bahwa kami berdua meminta dan menerima, dan stroke yang kita berikan kepada orang lain.
b. Perintah (Injuction) dan Counterinjunctions
The Gouldings ‘redecision kerja didasarkan pada konsep-konsep TA perintah dan keputusan-keputusan awal (M. Goulding, 1987). Kalau orangtua senang dengan perilaku anak, pesan-pesan yang diberikan sering lebih bersifat mengizinkan. Namun, ketika orangtua merasa terancam oleh perilaku anak, pesan-pesan yang sering diungkapkan cenderung berbentuk perintah, yang dikeluarkan dari orangtua ‘ego status Anak’. Seperti pesan-ekspresi kekecewaan, frustrasi, kecemasan, dan ketidakbahagiaan-menetapkan “tidak boleh dilakukan” oleh anak-anak yang belajar untuk hidup. Keluar dari penderitaan mereka sendiri, orang tua dapat mengeluarkan pendek ini, tapi daftar besar perintah umum: “Jangan.” (Don’t), “Jangan dekat.”, “Jangan terpisah dari saya.”, “Jangan mau.” “Tidak perlu.” “Jangan berpikir.”, “Jangan merasa.”, “Jangan tumbuh dewasa.”, “Jangan berhasil.”, “Jangan kau.”, “Jangan waras.”, ”Jangan baik.”, “Jangan milik”, dsb (M. Goulding, 1987; Goulding & Goulding, 1979). Pesan-pesan ini sebagian besar diberikan tanpa kata-kata dan pada tingkat psikologis antara kelahiran dan 7 tahun.
Kalau orangtua mengamati anak laki-laki atau perempuan mereka tidak berhasil, atau tidak nyaman dengan siapa mereka, mereka berusaha untuk “counter” efek dari pesan sebelumnya dengan counterinjunctions. Pesan ini datang dari orang tua ‘ego status Parent’ dan diberikan pada tingkat sosial. Mereka menyampaikan “keharusan,” “oughts,” dan “dos” harapan orang tua. Contoh counterinjunctions adalah “Jadilah sempurna.”, “Coba keras.”, “Cepat.”, “Jadilah kuat.”, dan “Tolong aku.” Masalahnya dengan counterinjunctions ini adalah bahwa tak peduli berapa banyak kita mencoba untuk menyenangkan kita merasa seolah-olah kita masih tidak melakukan cukup atau tidak cukup. Hal ini menunjukkan aturan bahwa pesan-pesan yang diberikan pada tingkat psikologis jauh lebih kuat dan bertahan lama daripada yang diberikan pada tingkat sosial.
Perintah ini tidak hanya ditanam di kepala kita sementara kita duduk dengan pasif. Menurut Maria Goulding (1987), baik anak-anak memutuskan untuk menerima pesan orang tua atau untuk melawan mereka. Dengan membuat keputusan dalam menanggapi perintah nyata atau khayalan, kami menganggap beberapa tanggung jawab untuk mengindoktrinasi diri kita sendiri. Klien dalam terapi TA mengeksplorasi “keharusan” dan “shouldn’ts,” the “dos” dan “tidak boleh dilakukan” oleh yang mereka telah dilatih untuk hidup, dan bagaimana mereka memungkinkan mereka untuk beroperasi dalam hidup mereka. Langkah pertama dalam membebaskan diri dari perilaku yang sering didikte oleh irasional dan umumnya tidak kritis menerima pesan dari orang tua adalah kesadaran akan perintah-perintah spesifik dan counterinjunctions bahwa seseorang telah diterima sebagai seorang anak. Setelah klien telah mengidentifikasi dan menjadi sadar akan diinternalisasikan ini “keharusan,” “oughts,” “dos,” “tidak boleh dilakukan,” dan “musts,” mereka berada dalam posisi yang lebih baik untuk secara kritis memeriksa mereka untuk menentukan apakah mereka bersedia terus hidup oleh mereka.
c. Keputusan dan Redecisions
Analisis transaksional menekankan kemampuan kita untuk menyadari keputusan yang mengatur perilaku kita dan kemampuan untuk membuat keputusan baru yang akan menguntungkan mengubah arah hidup kita. Bagian ini membahas keputusan yang dibuat sebagai respons terhadap perintah orang tua dan kontra-perintah dan menjelaskan proses redecisional.
Daftar berikut, berdasarkan Gouldings karya (1978, 1979), termasuk perintah umum, dan beberapa kemungkinan keputusan yang dapat dibuat sebagai tanggapan terhadap mereka.
· ‘Jangan melakukan kesalahan.’ Anak-anak yang mendengar dan menerima
pesan ini sering takut mengambil risiko yang dapat membuat mereka terlihat bodoh. Mereka cenderung menyamakan membuat kesalahan dengan menjadi kegagalan. Kemungkinan keputusan: ‘Aku takut untuk membuat keputusan yang salah, jadi aku hanya tidak akan memutuskan.’ ‘Karena aku membuat pilihan yang bodoh, aku tidak akan memutuskan sesuatu yang penting lagi!’ ‘Sebaiknya aku menjadi sempurna jika aku berharap untuk dapat diterima.’
· “Jangan.” Pesan mematikan ini sering diberikan tanpa kata-kata dengan cara
orangtua terus (atau tidak ditahan) anak. Pesan dasar “Aku berharap kau tidak dilahirkan.” Kemungkinan keputusan: “Aku akan terus mencoba sampai aku mendapatkan kau mencintaiku.
· “Jangan dekat.” Terkait dengan perintah ini adalah pesan “Jangan percaya” dan
“Jangan cinta.” Kemungkinan keputusan: “Aku membiarkan diriku cinta sekali, dan itu menjadi bumerang. Jangan pernah lagi! “” Karena hal itu menakutkan untuk mendapatkan dekat, aku akan tetap sendiri jauh. “
· “Jangan menjadi penting.” Jika Anda terus-menerus diskon ketika Anda
berbicara, Anda cenderung percaya bahwa Anda tidak penting. Kemungkinan keputusan: “Jika, secara kebetulan, aku pernah lakukan menjadi penting, aku akan mengecilkan prestasi saya.”
· “Jangan anak.” Pesan ini mengatakan: “Selalu bertindak dewasa!” “Jangan
kekanak-kanakan.” “Tetaplah kontrol diri.” Kemungkinan keputusan: “Aku akan mengurus orang lain dan tidak akan meminta banyak diriku sendiri.” “Aku tidak akan membiarkan diriku bersenang-senang.”
· “Jangan tumbuh.” Pesan ini diberikan oleh ketakutan orangtua yang enggan anak
dari tumbuh dewasa dalam banyak cara. Kemungkinan keputusan: “Aku akan tinggal seorang anak, dan dengan cara itu aku akan mendapatkan orang tua saya untuk menyetujui saya.” “Aku tidak akan seksual, dan cara itu ayahku tidak akan mendorong aku pergi.”
· “Jangan berhasil.” Jika anak-anak secara positif diperkuat untuk gagal, mereka
dapat menerima pesan bukan untuk mencari kesuksesan. Kemungkinan keputusan: “Aku tidak akan pernah melakukan apa pun yang cukup sempurna, jadi kenapa coba?” “Aku akan berhasil, tidak peduli apa yang diperlukan.” “Kalau aku tidak berhasil, maka saya akan tidak harus tinggal sampai dengan harapan yang tinggi lainnya telah dari saya.”
· “Jangan kau.” Ini menyarankan untuk melibatkan anak-anak bahwa mereka
adalah salah seks, bentuk, ukuran, warna, atau memiliki ide atau perasaan yang tidak dapat diterima kepada sosok orang tua. Kemungkinan keputusan: “Mereka akan mencintai saya hanya jika aku seorang anak laki-laki (perempuan), sehingga tidak mungkin untuk mendapatkan cinta mereka.” “Aku akan berpura-pura I’ma anak laki-laki (perempuan).”
· “Jangan waras” dan “Jangan terlihat sehat.” Sebagian anak-anak mendapat
perhatian hanya ketika mereka secara fisik sakit atau bertindak gila. Kemungkinan keputusan: “Aku akan sakit, dan kemudian aku akan termasuk.” “Saya gila.”
· “Jangan milik.” Perintah ini dapat menunjukkan bahwa keluarga merasa bahwa
anak tidak milik di mana saja. Kemungkinan keputusan: “Aku akan menjadi seorang penyendiri selamanya.” “Aku tidak akan pernah punya tempat.” Apa pun perintah orang-orang yang telah menerima, dan apa pun yang dihasilkan keputusan-keputusan hidup, analisis transaksional berpendapat bahwa orang dapat membuat hidup substantif perubahan dengan mengubah keputusan mereka-oleh redeciding pada saat itu. Sebuah asumsi dasar TA adalah bahwa apa pun yang telah dipelajari dapat relearned.
Sebagai bagian dari proses terapi TA, klien sering didorong untuk kembali ke masa kanak-kanak adegan di mana mereka tiba pada keputusan yang membatasi diri. Terapis dapat memfasilitasi proses ini dengan salah satu intervensi berikut: “Ketika Anda berbicara, berapa lama yang Anda rasakan?” “Apakah apa yang Anda katakan mengingatkan Anda tentang sewaktu-waktu ketika Anda masih kecil?” “Apa gambar yang datang ke pikiran Anda sekarang? “” Bisakah Anda membesar-besarkan bahwa kerutan di wajah Anda? Apa perasaan Anda? Adegan apa yang muncul dalam pikiran saat Anda mengalami kening berkerut Anda?”.
Mary Goulding (1987) mengatakan bahwa ada banyak cara untuk membantu klien untuk kembali ke beberapa titik kritis dalam masa kanak-kanak. “Begitu di sana,” ia menambahkan, “reexperiences klien adegan, dan kemudian dia menghidupkan kembali dalam fantasi dalam beberapa cara baru yang memungkinkan dirinya untuk menolak keputusan lama” (hal. 288). Setelah klien mengalami berada di redecision dari adegan tua, desain eksperimen mereka sehingga mereka dapat mempraktekkan perilaku baru untuk memperkuat redecision mereka baik dalam dan keluar dari kantor terapi.
Dengan masing-masing dari sepuluh perintah-perintah dasar yang telah diuraikan sebelumnya (dan beberapa kemungkinan keputusan yang mengalir dari mereka), ada banyak kemungkinan untuk keputusan-keputusan baru. Dalam setiap kasus terapis memilih adegan awal yang sesuai dengan perintah klien/pola keputusan, sehingga adegan akan membantu klien ini membuat redecision tertentu. Sebagai contoh adalah Jason, yang akhirnya melihat bahwa ia menanggapi perintah ayahnya “Jangan tumbuh” dengan memutuskan tetap tak berdaya dan belum dewasa. Dia ingat belajar bahwa ketika ia independen ayahnya berteriak kepadanya dan, ketika ia tak berdaya, ia diberi perhatian ayahnya. Karena ia ingin persetujuan ayahnya, Jason memutuskan, “Aku akan tetap menjadi seorang anak selama-lamanya.” Selama sesi terapi, Jason kembali ke masa kanak-kanak adegan di mana ia membelai untuk ketidakberdayaan, dan dia berbicara kepada ayahnya sekarang berada dalam cara yang dia tidak pernah melakukan seperti seorang anak: “Ayah, walaupun aku masih ingin persetujuan Anda, saya tidak perlu itu ada. Penerimaan Anda tidak sebanding dengan harga aku harus membayar. Aku mampu memutuskan untuk diri sendiri dan berdiri di kedua kakiku sendiri. Aku akan menjadi orang yang saya inginkan, bukan anak itu yang kau ingin aku berada.”
Dalam hal ini redecision Jason bekerja memasukkan fantasi masa lalu dan menciptakan adegan-adegan di mana mereka dapat dengan aman menyerah dan saat ini tidak sesuai keputusan awal, karena keduanya dipersenjatai dengan pemahaman di masa sekarang yang memungkinkan mereka untuk menghidupkan kembali pemandangan dengan cara yang baru. Proses redecision adalah awal dan bukan akhir. The Gouldings (1979) percaya bahwa adalah mungkin untuk memberikan akhir baru ke adegan di mana keputusan dibuat asli-akhir baru yang sering menghasilkan sebuah awal baru yang memungkinkan klien untuk berpikir, merasa, dan bertindak dalam cara-cara direvitalisasi. Setelah klien mengalami fantasi redecision melalui kerja, mereka dan eksperimen desain terapis mereka sehingga mereka dapat mempraktekkan perilaku baru untuk memperkuat keputusan mereka. The Gouldings mempertahankan bahwa klien dapat menemukan kemampuan untuk mandiri dan untuk mengalami rasa kebebasan, semangat, dan energi.
d. Games
Sebuah transaksi, yang dianggap sebagai unit dasar komunikasi, terdiri dari stroke pertukaran antara dua atau lebih banyak orang. Sebuah permainan adalah serangkaian berkelanjutan transaksi yang berakhir dengan hasil negatif diminta oleh skrip yang mengakhiri permainan dan kemajuan suatu cara untuk merasa buruk. Sesuai dengan sifatnya, permainan yang dirancang untuk mencegah keintiman. Permainan terdiri dari tiga elemen dasar: serangkaian transaksi yang saling melengkapi di permukaan tampak masuk akal; sebuah transaksi yang tersembunyi adalah agenda tersembunyi dan hasil negatif yang mengakhiri permainan dan merupakan tujuan sesungguhnya dari permainan.
Bern (1964) menggambarkan sebuah antologi permainan yang berasal dari tiga posisi: penganiaya, penyelamat, dan korban. Misalnya, orang yang telah memutuskan mereka tidak berdaya mungkin memainkan beberapa versi dari “Poor Me” atau “Kick Me.” Mahasiswa “kehilangan” atau “lupa” mengerjakan PR untuk kedua kalinya minggu ini dan membuat pengumuman secara terbuka di kelas. Guru marah, dan mahasiswa yang mengambil hasil dan mendapatkan perhatian dibayar dalam proses. Orang-orang yang merasa lebih unggul mungkin baik menganiaya atau penyelamatan. Para penganiaya memainkan beberapa bentuk “Baik” atau “Treatment” (mencari-cari kesalahan), sedangkan penyelamat memainkan beberapa bentuk “Saya hanya berusaha membantu Anda.” Bern menggambarkan berbagai permainan umum, termasuk “Ya, tetapi , “Kick me”, “lelah”, “Kalau bukan karena Anda”, “Martyr”, “Bukankah itu mengerikan”, “Aku hanya berusaha membantu Anda”, “keributan”, “dan” Lihat apa yang membuat saya lakukan! “Permainan selalu memiliki beberapa hasil (atau kalau tidak mereka tidak akan diabadikan), dan satu hadiah umum adalah dukungan untuk keputusan yang dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Misalnya, orang yang telah memutuskan bahwa mereka tidak berdaya mungkin memainkan “Ya, tetapi” permainan. Mereka meminta orang lain untuk bantuan dan kemudian menyambut saran dengan daftar alasan mengapa saran tidak akan bekerja; demikian, mereka merasa bebas untuk berpegang teguh pada ketidakberdayaan mereka. Pecandu dari “Kick me” permainan sering orang-orang yang telah memutuskan untuk ditolak; mereka menetapkan diri untuk dianiaya oleh orang lain sehingga mereka dapat memainkan peran sebagai korban yang tidak ada yang suka.
Dengan terlibat dalam bermain game, orang-orang menerima stroke dan juga memelihara dan mempertahankan keputusan awal mereka. Mereka menemukan bukti untuk mendukung pandangan mereka tentang dunia, dan mereka mengumpulkan perasaan buruk. Ini perasaan yang tidak menyenangkan orang mengalami setelah permainan yang dikenal sebagai raket. Sebuah raket yang akrab perasaan emosi yang dipelajari dan didorong di masa kanak-kanak dan berpengalaman dalam berbagai situasi stres, tetapi sebagai orang dewasa maladaptive sarana pemecahan masalah (Stewart & Joines, 1987). Raket punya banyak kualitas yang sama seperti perasaan orang-orang itu sebagai anak-anak. Raket ini dipelihara dengan benar-benar memilih situasi yang akan mendukung mereka. Oleh karena itu, orang-orang yang biasanya merasa tertekan, marah, atau bosan dapat secara aktif mengumpulkan perasaan ini dan memberi makan mereka ke dalam perasaan lama pola-pola yang sering mengakibatkan stereotip cara berperilaku. Mereka juga memilih permainan mereka akan bermain untuk mempertahankan raket mereka. Ketika orang-orang “merasa buruk,” mereka sering mendapat simpati dari orang lain atau mengendalikan orang lain dengan suasana hati buruk mereka.
Dalam terapi, klien TA diajarkan untuk membuat hubungan antara permainan mereka bermain sebagai anak-anak dan orang-orang yang bermain sekarang misalnya, bagaimana mereka berusaha untuk mendapatkan perhatian di masa lalu dan bagaimana upaya-upaya masa lalu itu berhubungan dengan permainan mereka bermain sekarang untuk mendapatkan perhatian. Tujuannya di sini adalah untuk menawarkan kesempatan klien untuk menurunkan permainan tertentu demi menjawab dengan jujur kesempatan yang dapat menyebabkan mereka menemukan cara untuk mengubah stroke negatif dan belajar bagaimana memberi dan menerima stroke positif.
e. Dasar Psikologis Hidup Posisi dan Lifescripts
Keputusan mengenai diri sendiri, satu dunia, dan hubungan seseorang kepada orang lain yang mengkristal selama 5 tahun pertama kehidupan. Putusan tersebut adalah dasar bagi perumusan posisi hidup, yang berkembang menjadi peranan dari lifescript. Umumnya, sekali seseorang telah memutuskan pada posisi hidup, ada kecenderungan untuk itu tetap tetap kecuali ada intervensi, seperti terapi, untuk mengubah keputusan yang mendasarinya. Permainan ini sering digunakan untuk mendukung kehidupan dan mempertahankan posisi dan bermain keluar lifescripts. Orang-orang mencari keamanan dengan mempertahankan bahwa yang akrab, meskipun akrab mungkin sangat tidak menyenangkan. Seperti yang telah kita lihat sebelumnya, permainan seperti “Kick me” mungkin menyenangkan, tetapi mereka memiliki keutamaan yang memungkinkan pemain untuk mempertahankan posisi yang akrab dalam kehidupan, meskipun posisi ini adalah negatif.
Analisis transaksional mengidentifikasi empat kehidupan dasar posisi, yang semuanya didasarkan pada keputusan yang dibuat sebagai akibat dari pengalaman masa kanak-kanak, dan semua yang menentukan bagaimana orang-orang merasa tentang diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain:
a. I I’m OK-OK kau umumnya permainan posisi bebas. Ini adalah keyakinan
bahwa orang mempunyai nilai dasar, nilai, dan martabat sebagai manusia. Bahwa
orang-orang OK adalah pernyataan dari esensi mereka, belum tentu perilaku mereka. Posisi ini dicirikan oleh sikap kepercayaan dan keterbukaan, kesediaan untuk memberi dan menerima, dan penerimaan orang lain seperti mereka. Orang-orang dekat dengan diri mereka sendiri dan orang lain. Ada pecundang, hanya pemenang.
b. Aku baik-baik-kau tidak OK adalah posisi orang yang proyek masalah-masalah
mereka ke orang lain dan menyalahkan mereka, meletakkannya, dan mengkritik
mereka. Permainan yang memperkuat posisi ini melibatkan sok superior (yang “Aku baik-baik”) yang proyek marah, jijik, dan cemoohan ke rendah yang ditunjuk, atau kambing hitam (yang “Kau tidak OK”). Posisi ini adalah bahwa orang yang membutuhkan tertindas untuk mempertahankan atau rasa “OKness.”
c. Aku tidak OK-OK kau dikenal sebagai posisi dan depresi ditandai oleh
perasaan tidak berdaya dibandingkan dengan orang lain. Biasanya orang-orang seperti melayani kebutuhan orang lain, bukan mereka sendiri dan umumnya merasa menjadi korban. Games mendukung posisi ini termasuk “Kick saya” dan “Martyr”-permainan yang mendukung kekuatan orang lain dan menyangkal orang itu sendiri.
d. Yang aku tidak OK-OK kuadran kau tidak dikenal sebagai posisi kesia-siaan
dan frustrasi. Operasi dari tempat ini, orang-orang telah kehilangan minat dalam hidup dan dapat melihat kehidupan sebagai benar-benar tanpa janji. Ini sikap yang merusak diri adalah karakteristik dari orang-orang yang tidak mampu mengatasi di dunia nyata, dan hal itu dapat mengakibatkan penarikan ekstrim, kembali ke perilaku kekanak-kanakan, atau perilaku kekerasan yang mengakibatkan cedera atau kematian diri sendiri atau orang lain.
Pada kenyataannya masing-masing dari kita memiliki posisi favorit kami beroperasi dari bawah stres. Tantangannya adalah untuk menjadi sadar betapa kita berusaha untuk membuat kehidupan nyata melalui kehidupan dasar eksistensial kita posisi dan menciptakan sebuah alternatif. Terkait dengan konsep dasar posisi psikologis adalah lifescript, atau rencana untuk kehidupan. Lifescript pribadi adalah rencana kehidupan bawah sadar yang dibuat di masa kanak-kanak, diperkuat oleh orang tua, “dibenarkan” oleh peristiwa berikutnya, dan mencapai puncaknya pada alternatif yang dipilih (Stewart & Joines, 1987). Script ini, sebagaimana telah kita lihat, yang dikembangkan pada awal hidup sebagai hasil dari ajaran orangtua (seperti perintah dan counterinjunctions) dan keputusan awal yang kita buat. Di antara keputusan tersebut adalah memilih posisi psikologis dasar, atau peran dramatis, bahwa kita bermain di lifescript kami. Memang, lifescripts dapat dibandingkan dengan produksi panggung yang dramatis, dengan tokoh karakter, plot, adegan, dialog, dan berbagai latihan. Pada intinya, lifescript adalah cetak biru yang mengatakan orang-orang di mana mereka akan pergi dalam hidup dan apa yang akan mereka lakukan ketika mereka tiba.
Menurut Berne (1972), melalui interaksi awal dengan orang tua dan orang lain
kita menerima pola stroke yang mungkin baik mendukung atau meremehkan. Berdasarkan pola membelai ini, kita membuat keputusan eksistensial dasar tentang diri kita sendiri yaitu, kita asumsikan satu dari empat posisi kehidupan yang baru saja dijelaskan. Keputusan eksistensial ini kemudian diperkuat oleh pesan (baik verbal dan nonverbal) yang kita terus terima selama hidup kita. Hal ini juga diperkuat dengan hasil permainan kami, raket, dan interpretasi peristiwa. Selama masa kanak-kanak kami tahun kami juga membuat keputusan apakah orang-orang yang dapat dipercaya.
Sistem keyakinan dasar kita demikian dibentuk melalui proses ini memutuskan tentang diri sendiri dan orang lain. Jika kita berharap untuk mengubah kehidupan saja yang kita bepergian, itu akan membantu untuk memahami komponen dari naskah ini, yang untuk sebagian besar menentukan pola kita berpikir, merasa, dan berperilaku.
Melalui sebuah proses yang dikenal sebagai analisis naskah, klien dapat menjadi sadar betapa mereka peroleh lifescript mereka dan mampu melihat lebih jelas peran hidup mereka (dasar kehidupan psikologis posisi). Analisis script membantu klien melihat cara-cara di mana mereka merasa terdorong untuk bermain lifescript mereka dan menawarkan alternatif pilihan hidup mereka. Tempatkan dengan cara lain, proses terapeutik klien mengurangi dorongan untuk bermain game yang membenarkan perilaku yang diperlukan dalam naskah kehidupan mereka.
Analisis script menunjukkan proses dengan mana orang-orang mendapatkan script dan strategi yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakan mereka berdasarkan hal itu. Tujuannya adalah untuk membantu klien membuka kemungkinan untuk membuat perubahan dalam pemrograman awal. Klien diminta untuk mengingat kisah-kisah favorit mereka sebagai anak-anak, untuk menentukan bagaimana mereka masuk ke dalam cerita-cerita atau dongeng, dan untuk melihat bagaimana kisah-kisah ini sesuai dengan pengalaman hidup mereka saat ini.
Steiner (1967) mengembangkan sebuah lifescript kuesioner yang dapat digunakan sebagai katalis untuk analisis naskah dalam sesi terapi untuk membantu klien mengeksplorasi komponen signifikan-lifescript mereka di antara mereka, hidup posisi dan permainan. Dalam menyelesaikan daftar periksa script ini, klien menyediakan informasi dasar seperti arah hidup mereka, model-model dalam hidup mereka, sifat perintah mereka, maka hadiah yang mereka cari, dan berakhir tragis mereka harapkan dari kehidupan.
Analisis lifescript individu didasarkan pada drama-nya keluarga asli. Sebagai hasil mengeksplorasi apa yang mereka pelajari berdasarkan lifescript mereka, klien belajar tentang perintah-perintah mereka diterima secara tidak kritis sebagai anak-anak, keputusan mereka dibuat sebagai tanggapan terhadap pesan ini, dan permainan dan raket sekarang mereka terapkan untuk menjaga keputusan awal ini hidup. Dengan menjadi bagian dari proses penemuan diri, klien meningkatkan kesempatan untuk datang ke pemahaman yang lebih dalam belum selesai mereka sendiri bisnis psikologis, dan di samping itu, mereka memperoleh kemampuan untuk mengambil beberapa langkah-langkah awal untuk keluar dari pola-pola merugikan diri sendiri.
2.8 Tujuan Konseling AT
Terapi analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan). Berne menegaskan bahwa tujuan AT bukanlah mendapatkan suatu wawasan, melainkan penyembuhan. Beberapa terapis menyamakan penyembuhan dengan penyelesaian kontrak perawatan antara klien dan terapis.
Namun Berne sendiri tidak melihat penyembuhan sebagai peristiwa tunggal,
namun progresif yang berlangsung dalam empat tahap, yaitu:
a. Kontrol sosial
Pada tahap ini klien mungkin masih merasakan ketidaknyamanan dan kesulitan sehingga ia datang ke terapis, namun ia telah bisa mengendalikan perilaku disfungsional dalam interaksinya dengan orang lain.
b. Penyembuhan gejala
Pada tahap ini klien bisa mengalami kelegaan ketidaknyamanan subjektif seperti kecemasan, depresi atau kebingungan.
c. Penyembuhan transferensi
Pada tahap ini klien sudah mulai bisa meninggalkan proses terapi, namun masih terkait dengan terapisnya.
d. Penyembuhan naskah
Pada tahap ini klien dinilai sudah berubah secara substansial dan permanen dan tak lagi mengandalkan pola-pola terapi dan masuk ke dalam pikiran, perasaan, dan perilaku.
Eric Berne juga mengajukan gagasan bahwa tujuan perubahan pribadi adalah otonomi. Maksudnya, diharapkan dengan terapi ini klien menjadi mandiri, dapat mengimplikasikan kemampuan untuk memecahkan problem dengan menggunakan sumber daya diri sendiri secara utuh untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam merespons realitas yang ada. Komponen-komponen otonomi adalah sebagai berikut;
a. Kesadaran artinya kemampuan untuk mengalami berbagai hal
b. Spontanitas artinya kemampuan untuk hidup dengan bebas, berdasarkan
pilihan keadaan ego.
c. Kedekatan dengan orang lain, dalam pandangan AT artinya ekspresi terbuka
terkait keinginan, perasaan, dan kebutuhan tanpa berpura-pura atau memanipulasi.
Menurut Corey, tujuan dasar dari analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasaranya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatsai oleh putusan dini mengenai posisi hidupnya.
Menurut Lutfi Fauzan, tujuan terapi analisis transaksional dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.
a. Tujuan umum terapi analisis transaksional, ialah membantu individu mencapai
otonomi. Individu dikatakan mencapai otonomi bilamana ia memliki Kesadaran, Spontanitas, Keakraban.
b. Tujuan khusus terapi analisis transaksional, yaitu sebagai berikut;
· Terapis membantu klien membebankan Status Ego Dewasanya dari
kontaminasi dan pengaruh negatif Status Ego Anak dan Status Ego Orang tua.
· Terapis membantu klien menetapkan kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan
terlepas dari perintah-perintah orang tua.
· Terapis membantu klien untuk menggunakan semua status egonya secara tepat.
· Terapis membantu klien untuk mengubah keputusan-keputusan yang mengarah
pada posisi kehidupan “orang kalah”.
Tujuan dasar Transaksional Analisis adalah:
a. Membantu klien untuk membuat keputusan-keputusan baru yg menyangkut
tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.
b. Memberikan kepada klien suatu kesadaran serta kebebasan untuk memilih
cara-cara serta keputusan-keputusan mengenai posisi kehidupannya serta menghindarkan klien dari cara-cara yang bersifat deterministik.
c. Memberikan bantuan kepada klien berupa kemungkinan-kemungkinan yang
dapat dipilih untuk memantapkan dan mematangkan stutus egonya.
d. Pencapaian otonomi yg diwujudkan oleh penemuan kembali 3 karakteristik
yaitu kesadaran, spontanitas dan keakraban
2.9 Fungsi Dan Peran Konselor AT
Inti pokok dari AT terletak pada usaha konselor (terapist) menganalisis transaksi klien dengan teknik-teknik yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian telihat sikap dan peranan konselor di sini :
a. Berusaha meletakkan tanggung jawab pada klien.
Karena pada hakekatnya setiap hendaknya bertanggung jawab atas kehidupannya, maka bagi AT juga mengarahkan agar pada diri klien tumbuh rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupannya.
b. Menyediakan lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien
atau keseimbangan ego state klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong terjadinya perubahan ego state klien.
c. Memisahkan mite dengan realitas. Karena pengaruh skenario, banyak klien
dipengaruhi oleh mitologi yang telah diadapsinya sejak lama. Dalam rangka memperbaiki kembali (memahami kembali) skenario kehidupan klien itu, konselor AT mempunyai peranan untuk memisahkan mite yang berpengaruh dalam skenario klien dengan realitas kehidupan yang sebenarnya.
d. Melakukan Konfrontasi atas keanehan yang tampak. Keanehan atau keadaan
ego state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki terapist dengan melakukan konfrontasi.Terapist hendaknya bisa membentuk dan merekonstruksi menjadi seimbang.
Jadi, dengan melihat peranan dan sikap konselor di atas, memperlihatkan bahwa konselor dalam AT bersifat aktif. Dia lebih banyak menentukan jalanya konseling.
2.10Hubungan Konselor Dengan Konseli
Analisis Transaksional menyiratkan bahwa seseorang akan berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan dinyatakan secara ringkas. Kontrak berisi tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Sebagai sesuatu yang dapat diubah – ubah, kontrak dapat dibuat secara bertahap. Konselor akan mendukung dan bekerja sesuai dengan kontrak. Akan tetapi, baik konselor maupun klien harus aktif dalam kegiatan konseling tersebut. Ada beberapa implikasi yang menyangkut hubungan konselor dan klien, yaitu :
a. Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan
klien. Konselor dan klien berbagi kata – kata dan konsep konsep yang sama, dan keduannya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
b. Klien memilik hak hak yang sama dan penuh dalam konseling. Hal ini berarti
klien tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal hal yang tidak ingin diungkapkanya. Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan diamati atau direkam diluar pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinnya.
c. Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara
konselor dan klien.
Pelaksanaan terapi AT beradasarkan kontrak, kontrak tersebut menjelaskan keinginan klien untuk berubah, di dalam kontrak berisi kesepakatan-kesepakatan yang spesifik, jelas, dan ringkas. Kontrak menyatakan apa yang dilakukan oleh klien, bagaimana klien melangkah ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya dan kapan kontrak tersebut akan berakhir. Kontrak dapat diperpanjang, konselor akan mendukung dan bekerja sesuai kontrak yang telah menjadi kesepakatan bersama. Pentingnya keberadaa kontrak, karena umumnya dalam terapi, klien seringkali keluar dari kesepakatan awal. Menyimpang, cenderung memunculkan masalah-masalah baru, bersikap pasif, dan dependen akibatnya proses penyembuhan membutuhkan tambahan waktu. Dengan adanya kontrak maka kewajiban tanggungjawab bagi klien semakin jelas, membuat usaha klien untuk tidak keluar pada kesepakatan dan komitmen untuk penyembuhan tetap menjadi perhatian, maka klien menjadi fokus pada tujuan-tujuan sehingga proses penyembuhan akan semakin cepat. Maksud dari kontrak lebih spesifik, yaitu menyepakati cara-cara yang sesungguhnya digunakan dalam terapi yang disesuikan dengan kebutuhan klien dengan memperhatikan apakah untuk individu atau kelompok.
Contoh dalam kontrak, misalnya klien membutuhkan hubungan yang harmonis dan bermakna dengan orang lain, kemudian dia berkata, “Saya merasa kesepian dan saya ingin lebih memiliki hubungan yang harmonis dengan para kerabat”. Maka, kontrak yang dibuat harus mencakup latihan yang spesifik dengan mengerjakan tugas oleh klien agar dia memiliki kepercayaan diri untuk berhubungan secara harmonis dan bermakna. Bagaimana dengan klien yang bingung menentukan apa yang menjadi keinginannya? Selanjutnya untuk membuat kontrak pun akan sulit, Corey (1996) memberikan solusi, bagi mereka yang seperti itu disarankan untuk memulai dan menetapkan kontrak jangka pendek atau kontrak yang lebih mudah dengan berkonsultasi tidak terlalu lama diyakini kontrak akan bisa ditetapkan. Perlu dipahami bahwa kontrak bukan tujuan, melainkan sebagai alat untuk membantu klien untuk dapat menerima tanggunjawab agar lebih aktif dan otonom.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh konselor ketika membangun hubungan dengan klien, yaitu Pertama, tidak ada kesenjangan pemahaman antara klien dan konselor yang tidak dapat jembatani. Kedua, klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam terapi, artinya klien memiliki hak untuk menyimpan atau tidak mengungkapkan sesuatu yang dianggap rahasia. Ketiga, kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan klien.
Analisis transaksional memberikan hubungan yang suportif dan nurturing yang kondusif bagi klien yang memikul tanggung jawab pribadi lebih besar atas hidupnya. Dengan kata lain, terapi memberikan izin kepada klien pada saat mereka mengungkapkan dan menganalisis dirinya secara lebih lengkap dan mengujicobakan pola-pola perasaan, pemikiran, dan perilaku lebih Adult.
Pada awalnya, terapis dank lien menetapkan aturan-aturan dasar dan menentukan elemen-elemen kontrak kerja dan kontrak belajar mereka. Terapis melatih klien tentang keterampilan menganalisis ego state, transaksi, permainan, dan skrip. Selain itu, terapis mendorong dan membentu klien untuk mengidentifikasi opsi-opsi Adult untuk menghadapi berbagai orang, situasi, dan masalah dalam hidupnya.
2.11 Teknik-Teknik Dan Prosedur Konseling
Dalam AT konseling diarahkan kepada bagaimana klien bertransaksi dengan lingkungannya. Karena itu, dalam melakukan konseling ini, terapis memfokuskan perhatian terhadap apa yang dikatakan klien kepada orang lain dan apa yang dikatakan orang lain kepada klien. Untuk itu, teknik yang sering digunakan dalam AT diantaranya adalah analisis struktur, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis mainan.
a. Analisis Struktur
Analisis struktur maksudnya adalah analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien. Analis hendaknya bisa mengenal
1) apakah klien menggunakan ego state tertentu,
2) apakah ego state klien, normal, terkontaminasi atau eksklusif, dan
3) bagaimanakah energi egogram klien tersebut.
Dengan mengetahui struktur ego state klien, akan diketahui masalah yang dihadapi klien. Bila klien dominan menggunakan ego state Child (Anak-anak) masalah yang dihadapinya kurangnya rasa pecaya diri atau dipandang rendah orang lain. Bila Parent (Orang tua) yang dominan maka klien tengah ditakuti, dijauhi, disisihkan atau diasingkan orang lain. Contoh: dalam kasus fren (terlampir)
Konselor menganalisis bahwa Fren memiliki ego anak-anak yang lebih dominan Karena Fren sudah membuat keputusan dini “saya bodoh, akan lebih baik jika saya tidak disini, saya orang yang kalah”. Hal itu menyebabkan dirinya merasa,tidak percaya diri dan selalu dipandang rendah oleh orang lain.
b. Metode-Metode Didiktatik
Metode-metode didiktatik dilakukan karena Analisis Transaksional menekankan
domain kognitif, anggota kelompok. Analisis Transaksional diharapkan sepenuhnya mengenal Analisis Transaksional dengan menguasai landasan-landasan perwakilan ego.
c. Analisis Transaksional
Transaksi antara konselor-klien pada hakekatnya adalah tranasksi antar status ego
keduanya. Konselor menganalisa status ego yang terlihat dari respons atau stimulus klien. Dengan orang lain Baik dari kata-kata yang diungkapkan klien, maupun dengan bahasa non verbal. Data atau informasi yang diperoleh dari transaksi dijadikan konselor untuk bahan analisis atau problem yang dihadapi klien. Analisis Transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi.
d. Analisis Mainan
Analisis mainan adalah analisis hubungan transaksi yang terselubung antara Klien dengan konselor atau dengan Lingkungannya. Mungkin klien dalam transaksinya sering mengumpulkan “kupon emas atau kupon coklat” (perasaan menang atau perasaan kalah). Bila klien dalam games sering berperan sebagai pemenang, maka ada kemungkinan ia menjadi amat takut sewaktu-waktu akan menerima kupon cokelat yang banyak.
e. Analisis Skenario
Analisis Skenario ini merupakan usaha terapist yang terakhir, dan diperlukan mengenal proses terbentuknya skenario yang dimiliki klien. Analisis skenario ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi seseorang sejak masa kecil dan standar sukses yang telah ditanamkan orang tuanya.
Cotoh penggunaan teknik pada kasus Fren (terlampir)
Selama proses terapi, stan akan dipelajari bagaimana menganalisis skenario kehidupannya. Dia akan memperlihatkan bahwa dia melandasan rencana hidupnya pada serangkaian putsan dan adaptasi.melalui analisis skenario dia akan mengenali pola hidupnyayang tampaknya telah diikutinya etelah menjadi lebih sadar atas skenario kehidupannya.dia akan seara aktif berbuat sesuatu. Melalui penngkatan kesadaran Fren bisa membebaskan diridari skenario kehidupan yang terbentuk pada masa kanak-kanaknya.
f. Kursi Kosong
Kursi kosong adalah suatu prosedur yang sesuai untuk analisis struktural. Teknik
dua kursi adalah salah satu teknik yang efektif untuk membantu konseli
memecahkan konflik-konflik masa lampau dengan orangtuanya atau dengan lingkungan. Jadi tujuan teknik dua kursi adalah menyelesaikan konflik dengan jalan menuntaskan urusan-urusan dari masa lampau yang tidak terselesaikan.
g. Permainan Peran
Permainan peran dilakukan oleh anggota kelompok dengan memainkan peran
sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi anggota lainnya. Bentuk permainan peran lainnya adalah permainan yang menonjolkan gaya-gaya khas yang mencerminkan ego orangtua konstan, ego dewasa konstan dan ego anak konstan.
h. Percontohan Keluarga
Konseli diminta membayangkan kondisi dimasa lampau yang melibatkan orang-
orang yang berpengaruh termasuk dirinya sendiri. Konseli menjadi sutradara, produser, aktor. Konseli menetapkan situasi dan menggunakan anggota kelompok sebagai pemeran dan menempatkan mereka pada kondisi yang dibayangkan.
i. Analisis Skenario
Analisis Skenario adalah bagian dari proses terapi yang memungkinkan pola hidup yang diikuti oleh individu dapat dikenali. Analisis Skenario dapat menunjukkan kepada individu proses yang dijalaninya dalam memperoleh skenario dan cara-caranya membenarkan tindakan-tindakan yang tertera dalam skenario. Analisis skenario dapat dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar skenario yang berisi item-item yang berkaitan dengan posisi hidup, penipuan, permainan yang semuanya merupakan komponen-komponen fungsional utama pada skenaro kehidupan individu.
Disamping teknik-teknik yang digunakan di atas, treatment dari AT sering pula menggunakan teknik khusus, seperti: Interogasi, Spesifikasi, Konfrontasi, Eksplanasi, Ilustrasi, Konformasi, Interpretasi, dan Kristalisasi.
a. Interrogation : mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang ada pada
diri klien sehingga berkembang respon-respon adult dalam klien.
b. Specification : mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingga ketiga ego
state terpahami oleh klien.
c. Confrontation : menunjukkan kesenjangan/ketidaktuntasan pada diri klien.
d. Explanation : transaksi adult-adult antara klien dan konselor untuk
menjelaskan mengapa klien berbuat seperti apa yang dilakukannya (konselor “mengajar” klien).
e. Illustration : membicarakan contoh, dengan humor dan pengajaran (untuk
memperlihatkan bahwa ego state adult dan child dapat dipergunakan secara tepat).
f. Confirmation : mendorong klien untuk bekerja lebih keras.
g. Interpretation : membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya
(prosedur psikoanalisis)
h. Crystalization : menjelaskan pada klien bahwa klien telah siap untuk menjalani
games untuk memperoleh strokes yang diperlukan.
2.12 Kontribusi Pendekatan Konseling AT
Analisis transaksional kognitif menyediakan dasar untuk proses terapeutik yang sering hilang dalam model konseling. Desakan dari pendekatan ini pada klien setelah keluar dari posisi dan victimlike mereka menyadari bahwa mereka tidak perlu untuk terus hidup dengan keputusan awal mereka, aku percaya, penting untuk terapi yang efektif.
Banyak orang yang dibatasi oleh keputusan awal mereka: mereka berpegang teguh pada pesan orang tua, menjalani kehidupan mereka dengan perintah yang tidak teruji, dan seringkali bahkan tidak menyadari bahwa mereka hidup dalam jaket psikologis. Konseptual, alat menawarkan terapi redecision anggota yang dapat digunakan untuk membebaskan diri dari lifescript kuno dan mencapai sukses dan hidup bermakna.
TA dapat disesuaikan dengan singkat, terstruktur, dan terapi yang berfokus pada masalah, yang merupakan kekuatan dalam banyak pengaturan. Praktisi yang bekerja di dalam kerangka kerja perawatan yang dikelola secara umum memiliki sedikit waktu untuk mengumpulkan informasi klien, melakukan penilaian, memberikan orientasi ke proses terapi, menjalin hubungan, dan campur tangan dalam cara terapi (Davis & Meier, 2001). Sangat penting bahwa seorang konselor TA menjelaskan kebijakan program dan membatasi untuk klien dan bagaimana kebijakan kemungkinan akan mempengaruhi proses, jenis, dan panjang terapi.
Analisis transaksional memungkinkan berbagai kemungkinan baik untuk pencegahan dan perbaikan pekerjaan; pendekatan juga menyediakan baik untuk pendidikan dan struktur terapeutik. Adalah penting bahwa informasi yang diberikan dalam sesi terapi TA diimbangi dengan pengalaman kerja yang bertujuan untuk melibatkan klien baik secara kognitif dan emosional. Intervensi terapi lebih mungkin untuk berhasil dan menghasilkan perubahan yang abadi jika mereka melibatkan dunia emosional bukannya ditujukan murni pada tingkat kognitif (Greenberg, Korman, & Paivio, 2002).
TA memadukan konsep dan praktek dengan psikodrama Gestalt dan teknik. Melakukan hal dapat mengintegrasikan dimensi kognitif dan emotif sangat alami. Konsep TA dapat dibawa ke kehidupan dengan berlakunya metode yang khas psikodrama dan terapi Gestalt. Tentu saja, ini adalah apa yang telah dicapai Gouldings. Bekerja dari basis teoretis yang diberikan oleh TA, mereka telah menggunakan kombinasi dari metode terapeutik dari pendekatan pengalaman lain.
Menurut Dusay (1986), TA diakui sebagai teori lengkap kepribadian dan sistem seluruh psikoterapi. Dari perspektif Dusay, TA memiliki dua keuntungan utama sebagai sistem terapeutik. Pertama, ada yang lengkap dan mudah dikomunikasikan teori kepribadian, dan kedua, karena yayasan ini, para terapis bebas untuk mengembangkan gaya yang inovatif memanfaatkan pengobatan nya kekuatan sendiri. Dia menambahkan, jika satu orang untuk mengamati analis transaksi terlatih dalam tindakan, orang dapat melihat gaya terapeutik mulai dari yang lebih "intelektual" pendekatan kognitif sebuah "perasaan" pendekatan emotif.
Metode kontrak dalam konseling TA merupakan metode yang berguna dan bahwa orientasi konseling lain dapat memasukkan metode kontrak itu untuk membantu klien untuk memikul tanggung jawab pribadi yang lebih besar atas hasil-hasil dari pengalaman konseling. Analisis permainan-permainan dalam TA juga mengajari klien untuk lebih menyadari susunan-susunan permainan sehingga mempunyai peluang untuk mencari cara-cara membebaskan diri dari tingkah laku memainkan permainan. Mereka bisa pindah dari tingkah laku yang manipulative ke tingkah laku yang lebih otentik. Integrasi konsep-konsep dan praktek-praktek TA dengan konsep-konsep terapi Gestalt sangat berguna. Contoh yang baik dari pengintegrasian kedua pendekatan terapi ini dapat ditemukan dalam buku James dan Jongeward, Born to Win.
1. Keterbatasan dan Kritik terhadap Transaksional Analisis
Analisis Transaksional merupakan salah satu pendekatan yang berbeda dengan beberapa pendekatan yang telah berkembang sebelumnya. Bila kita lihat, bandingkan, atau nilai dari berbagai pendekatan lain, ternyata AT juga punya kelemahan disamping kebaikannya, seperti layaknya pendekatan lain. Adanya keunggulan hendaknya bisa kita manfaatkan, dan adanya kelemahan justru membuka peluang dan menantang, mencari dan menemukan pendekatan lain. Paling kurang terbukanya kesempatan untuk memperbaiki kelemahannya. Diantara keunggulan dan kelemahan AT itu antara lain:
2. Keunggulan dan Kelemahan AT
a. Keunggulan AT
Dengan melihat Konsepsi, penekanan, pelaksanaan serta penerimaan pada klien, maka ada beberapa kebaikan dari AT:
· Punya Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia
Seperti telah disebutkan pada bab terdahulu, AT memandang manusia dapat berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan kemauan. Kemauan inilah yang memungkinkan manusia berubah, tidak statis. Sehingga manusia bermasalah sekalipun dapat berubah lebih baik, bila kemauannya dapat tumbuh. Karena itu AT lebih optimis dan realistis memandang manusia. Bila kita bandingkan dengan Psikoanalisa, Freud, AT nampak selangkah lebih maju. Psikoanalisis memandang manusia deterministik. Perilaku manusia bagaikan suatu rotasi dari pengalaman masa kecil, kendatipun pengalaman masa kecil itu tak diingatnya lagi (Unconscious). AT tidak menolak adanya pengaruh masa kecil ini. Konsepnya tentang skenario kehidupan mengakui adanya kontribusi pengalaman masa kecil atas kehidupan sekarang. Tapi karena manusia punya kehendak dan kemauan untuk bebas, “pengalaman itu dapat dirubah “ (Shertzer & Stone, 1982, 237). Skenario kehidupan manusia diakui AT bersisi dua, ada yang negatif dan ada yang positif. Sesuai dengan nilai-nilai yang diterimanya dari orang tuanya atau interaksinya dengan lingkungan. Karena skrip itu mempengaruhi seseorang untuk mengambil kesimpulan, maka keputusan orang itu dapat Oke atau Tidak Oke terhadap diri dan lingkungannya. Hal ini juga lebih realitis dari konsep Rogers yang memandang manusia baik, rasional dapat dipercaya, dapat mengubah dirinya lebih baik atau dapat merealisasikan dirinya menjadi makhluk Insanul Kamil.
· Penekanan Waktu Sekarang dan Di sini
Tujuan pokok terapi AT adalah mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan memiliki rasa bebas untuk menentukan pilihannya. Untuk mengatasi masalah klien itu, AT berusaha membangkitkan kemauan dan kemampuan orang dengan melakukan analisis interaksinya dengan orang lain. Hal ini dimulai dengan mennganalisis interaksinya dengan terapist. Analisis seperti di atas, analisis interaksi klien dengan terapist atau orang lain, adalah persoalan interaksi sekarang. Kini dan di sini (here and now). Metoda analisis struktur, status ego dengan egogram, analisis permainan semuanya merupakan analisis terhadap perilaku yang di tampilkan klien pada saat ini, di sini di hadapan konselor. Kalau analisis itu (struktur, ego state, dan mainan) tidak mencapai hasil baru AT menggunakan analisis skrip, yang orientasinya pada masa lalu. Alternatif ini dipergunakan AT sebagai cara terakhir, bila analisis sebelumnya gagal merenggut hasil.
· Mudah Diobservasi
Banyak teori yang lahir dibelakang labor ilmiah, tak terkecuali untuk teori-teori Psikologi. Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu sulit diamati karena itu terlihat abstrak, sehingga kadang-kadang tak jarang pula yang hanya merupakan konstruk pikiran manusia penemunya. Berbeda dengan AT, ajaran Berne tentang status ego ( O, D dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara nyata dalam setiap interaksi atau komunikasi manusia.Status ego Berne jauh lebih observable dari teori Freud mengenai Id, Ego dan Super Ego, yang hanya dapat dijadikan konstruk pikiran kita atas perilaku seseorang. Lain dengan Ego Orang tua, Dewasa dan Anak, dia dapat diamati secara jelas tanpa menggunakan laboratorium. Begitu juga dengan sikap dasar manusia yang memilah manusia atas 4 posisi (saya tidak oke-kamu yang oke, saya dan kamu tidak oke, saya oke-kamu tidak oke, dan saya dan kamu oke) yang dikembangkan Harris, jauh lebih maju dari konsep karen Horney yang hanya mengemukakan 3 disposisi manusia. Helpless (minta pertolongan), hostility (menyerang) dan issolation (mengasingkan diri) (Bischof, 1970, 212). Horney membagi 3 disposisi ini dari sudut orang lain. Helpless, punya arah gerak kepada orang lain (Moving toward people). Menyerang merupakan arah menentang orang lain (moving againts people), sedangkan isolasi punya arah melarikan diri dari orang lain (moving away from people). Sedangkan Harris membagi sikap dasar manusia itu atas dasar pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain. Karena itu, konsep ini lebih maju dari Horney yang hanya melihat dari orang lain saja, pandangan terhadap diri sendiri juga mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
· Meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi
Fokus AT terpusat pada cara bagaimana klien berinteraksi, maka treatment juga mengacu pada interaksi, cara bebicara, kata-kata yang dipergunakannya dalam berkomunikasi. Analisis terhadap interaksi klien pada ruangan konseling, memberi kesempatan kepada klien untuk memperbaiki cara interaksinya dan komunikasinya baik di dalam ruangan Konseling. Karena itu, AT tidak hanya berusaha memperbaiki sikap, persepsi, atau pemahamannya tentang dirinya tetapi sekaligus mempunyai sumbangan positif terhadap keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. Hal semacam ini tidak dimilliki oleh pendekatan lainnya.
b. Kelemahan AT
Disamping decak kagum orang atas ajaran Berne ini, yang telah berhasil merekrut teori-teori komunikasi kelapangan psikologi, bukanlah berarti teori ini tidak punya kelemahan, banyak kritik dilontarkan pada AT, diantaranya :
· Kurang Efisien terhadap Kontrak Treatment
AT mengharapkan, kontrak treatment antara konselor-klien harus terjadi antara status ego Dewasa-dewasa. Artinya menghendaki bahwa klien mengikat kontrak secara realistis, sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Tetapi dalam kenyataannya, cukup banyak ditemui bahwa banyak klien yang punya anggapan jelek terhadap dirinya, atau tidak realistis. Karena itu, sulit tercapainya kontrak, karena ia tidak dapat mengungkapkan tujuan apa yang sebenarnya diinginkannya. Sehingga memerlukan beberapa kali pertemuan. Hal semacam ini dianggap tidak efisien dalam pelaksanaannya.
· Subyektif dalam Menafsirkan Status Ego
Apakah ungkapan klien termasuk status Ego Orang tua, Dewasa, atau Anak-anak merupakan penilaian yang subyektif. Mungkin dalam hal yang ekstrim tidak ada perbedaan dalam menafsirkannya. Tapi bila pernyataan itu mendekati dua macam status ego akan sulit ditafsirkan, dan mungkin berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Kesalahan atau perbedaan dalam menafsirkan status ego ini telah dibuktikan oleh Thomson dalam Dusay (Corsini, 1984) yang telah merekam suatu wawancara konseling, kemudian kepada konselor dan calon konselor AT disuruh menganalisis wawancara itu dari 3 macam status ego. Hasilnya memperlihatkan adanya perbedaan penafsiran diantara konselor dan calon konselor tadi. Di pihak lain error dari pihak klien mungkin pula muncul kepermukaan. Secepat ia memasuki ruangan konseling secepat itu pula terjad perubahan pola komunikasinya. Interaksinya diluar ruangan konseling tidak sama dengan didalam ruangan konseling. Bisa diluar lebih baik dengan menampilkan status ego dewasa, tapi di dalam ruangan konseling lebih banyak menampilakan status ego Anak-anak. Latar belakang kebudayaan serta bahasa sangat mempengaruhi pemahaman mengenai status ego ini. Karena itu analisis terhadap status ego ini bila antara konselor dengan klien punya latar belakang kebudayaan dan bahasa yang sama. Dan adalah sangat sulit terciptanya penafsiran yang sama pada masyarakat yang punya strata sosial berbeda, paternalis dsb. Perbedaan dalam memahami status ego ini, menyebabkan sulitnya kesamaan dalam menakar egogram klien.
· Kurang Petunjuk Mengenai Tingkah laku Konselor
Bagi orang yang ingin mempraktikkan AT ini perlu petunjuk bagaimana menganalisis transaksi itu secara tepat dan hemat. Termasuk persoalan bentuk-bentuk responsnya, dan konten dari ungkapan klien. Mungkin di atas telah disebutkan adanya analisis struktur, permainan, Skrip dengan penggunaan beberapa teknik, namun teknik mana yang dipakai dalam menganalisis itu tidak / belum dikembangkan secara khusus dalam teori AT ini. Karena belum adanya petunjuk khusus ini, orang menganggap AT kurang terinci, karena tidak ada petunjukanya.
3. Kepribadian Yang Bermasalah & Kepribadian Yang Sehat
a. Kepribadian Yang Bermasalah
Masih dalam buku sumber yang sama cirri kepribadian yang bermasalah ialah:
· Kecendrungan untuk memilih posisi devolusioner, obvolusioner dan pada
dirinya ada unsure tidak Ok
· Kecenderungan untuk menggunakan ego state yang tunggal
· Ego state yang ditampilkannya terlalu cair
· Ego statenya tercemar
· Individu akan menjadi tipe orang penyendiri tidak mampu bersosialisasi dengan
baik, selalu tergantung pada orang lain dan tidak percaya akan kemampuannya sendiri. Cenderung menjadi individu yang tertutup
· Adanya rasa tidak bertanggung jawab terhadap keputusannya.
· Konsep diri negatif
· Hubungan dengan orang lain negatif
· Posisi dasar hidupnya I am OK you are not OK, atau I am not OK you are OK
dan I am not OK you are not OK.
· Kontaminasi atau eksklusi
Kontaminasi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap atau lebih terhadap seseorang sehingga orang itu “berkurang” keseimbangannya. Selain eklusi ada satu masalah fungsional yang sering dialami individu yakni kontaminasi yaitu dimana bercampurnya status ego yang satu dengan yang lainnya sehingga mengalami pencemaran. Contohnya: Seorang yang tidak mampu menempatkan posisinya dalam lingkungan masyarakat. Seperti seorang kakek yang sudah tua-tua keladi, yang mempunyai hasrat seperti para remaja, atau juga sering menggoda cewek-cewek yang cantik. Tanpa menyadari usianya yang sudah rentang tua, sedangkan dirinya mempunyai tanggung jawab lain. Yaitu menafkahi keluarganya dsb. Dan dia cenderung berperilaku selayaknya berkelakuan kenakalan remaja.
b. Kepribadian Yang Sehat
Ciri-ciri kepribadian yang sehat menurut Hansen (dalam Taufik, 2009;111) adalah:
· Individu dapat menampilkan ego statenya secara luwes sesuai dengan tempat ia
berada
· Individu berusaha menemukan naskah hidupnya secara bebas serta
memungkinkan pula ia memperoleh sentuhan secara bebas pula.
· Memilih posisi hidup revolusioner, saya OK kamu Ok
· Ego statenya bersifat fleksibel tidak kaku dan tidak pul cair.
· Individu mampu mandiri, dapat melakukan apa yang dia inginkan dan
mempercayai dirinya sendiri bahwa dia mampu melakukan sesuatu hal tanpa merasa ada ketakutan bahwa pekerjaan yang ia lakukan tidak akan berhasil. Dan dia juga akan lebih mudah bersosialisasi, karena ia merasa bahwa ia tidak mampu untuk hidup sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Analisis Transaksional dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960. Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric Berne menggunakan berbagai bentuk permainan antara orang tua, orang dewasa dan anak. Dalam eksprerimen yang dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan bagaimana status ego anak, orang dewasa dan orang tua, dalam interaksi satu sama lain, serta bagaimana gejala hubungan interpersonal ini muncul dalam berbagai bidang kehidupan seperti misalnya dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan sebagainya.
Dari eksperimen ini Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi dan hubungan traksaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan psikologis.
Percobaan Eric Berne ini dilakukan hampir 15 tahun dan akhirnya dia merumuskan hasil percobaannya itu dalam suatu teori yang disebut Transaksional Analisis (TA) dalam Psikoterapi yang diterbitkan pada tahun 1961. Pendekatan TA ini juga digunakan oleh konselor dalam penanganan kasus pemilihan jurusan, yang mana dalam pengentasan lebih ditekankan pada aspek perjanjian dan pengambilan keputusan. Perjanjian antara konselor, konseli dan orang tuanya semua harus merasa nyaman, I am OK, You’r OK.
Pengentasan masalah yang dihadapi tentu akan diawali dengan berbagai langkah mulai dari menganalisa sampai pada langkah follow up, sehingga konseli dan orang tua merasa puas dengan konseling yang kita lakukan dan akan bisa memperbaiki hubungan antara anak dan orang tua yang egois serta anak mampu menggunkan ego dewasanya dalam menghadapi orang tuanya.
3.2 Saran
a. Tanganilah semua individu baik yang bermasalah maupun yang tidak, dan hat-
hati dalam membuat perjanjian serta membantu konseli dalam pengambilan keputusan agar sama-sama enak.
b. Jangan memaksakan kehendak kepada anak karena anak juga mempunyai hak
bicara dan menentukan pilihan hidupnya. Apa yang menurut orang tua cocok dan baik belum tentu pas menurut anak. Selalulah diskusi secara terbuka dalam segala hal kepada anak agar terjalin hubungan yang baik.
c. Dukung dan fasilitasi segala kegiatan konseling yang dilakukan konselor agar
konseling berjalan semestinya tanpa meninggalkan ketidaknyamanan orang tua dan anak.






0 komentar:
Posting Komentar